PADANG LAWAS, HARIAN TABAGSEL.com- Masa periodesasi Plt Bupati Padang Lawas, drg H Ahmad Zarnawi Pasaribu akan berakhir 11 Februari 2024. Selanjutnya akan ditugaskan penjabat bupati.

Tentunya tugas yang menanti pj bupati nantinya sangat kompleks. Mulai dari birokrasi yang terkesan tidak sehat.

Itu dilihat dari banyaknya jabatan diisi pelaksana tugas. Baik setingkat camat, kepala bidang, sampai pelaksana tugas kepala dinas/badan.

Bahkan, struktur organisasi perangkat daerah masih terdapat double jabatan. Contohnya sedang menjabat eselon III definitif, lalu ditugaskan ke posisi lainnya dengan status pelaksana tugas.

Lalu ada juga soal anggaran. Dari penjelasan badan anggaran DPRD pada penetapan APBD 2024, terdapat defisit sebesar Rp8 Miliar. Dipenghujung tahun 2023, tiba-tiba Pemda Palas menyatakan Silpa sebesar Rp30,8 miliar.

Dampak perhitungan defisit itu bahkan berimbas pada pengurangan tenaga honor di tiap instansi. Selama Tiga bulan terakhir 2023, gaji para TKS ini juga tidak terbayarkan.

Lebih dari itu, tambahan penghasilan pegawai (TPP) turut dikurangi. Sama dengan TKS, Tiga bulan terakhir tidak lagi terbayarkan.

Disisi lain, porsi pendapatan juga jadi PR yang menanti. Kurun 3 tahun, setelah target pendapatan asli daerah tidak pernah tercapai. Di tahun 2023, hanya sebesar 58 persen dari Rp87 Miliar target.

Beranjak dari itu, target PAD turun di 2024. Padahal sumber pendapatan kerap diperbincangkan, padang lawas didominasi perkebunan yang banyak dikuasai korporasi.

Berbagai konflik agraria tak ayal, sering terjadi. Hingga menelan korban fisik, atau materil. Persoalan warga versus perusahaan perkebunan selalu membayang-bayangi, yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Merunut kembali soal anggaran, ini juga dinilai tidak ideal porsinya terhadap masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD). Malah, ada dinas yang termasuk pelayanan dasar senantiasa dianggap dinas anak tiri. Kerja maksimal tentu harus dibarengi anggaran yang memadai. Namun itu tidak terjadi pada porsi penganggaran.

Termasuk soal pelayanan kesehatan. Rumah sakit daerah sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat Padang Lawas, masih jauh dari harapan.

Peralatan dan fasilitas medis terbilang lengkap. Hanya saja terkesan tidak berfungsi. Bahkan, pasien-pasien banyak yang tak tertangani, berujung dirujuk, dirujuk, dan dirujuk.

Harapan besar itu, tentunya dapat diperbaiki penjabat bupati yang akan dilantik 12 Februari ini. Diperkirakan ada selama 1 tahun jabatan itu diemban, sebelum bupati selanjutnya dilantik. Jangan sampai pj ini juga terindikasi sebagai pasien rujukan. Seperti Pj bupati Tapanuli Tengah, yang sudah 3 kali berganti. (***)