TAPANULI SELATAN, hariantabagsel.com– Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, masih dibayangi bau lumpur dan serpihan kayu yang terbawa arus. Di setiap sudut desa, suara-suara lirih warga yang saling bertanya kabar sanak saudara terus terdengar, seolah menjadi doa panjang yang tak kunjung selesai.

Namun di antara semua kesedihan itu, ada satu sosok yang setiap hari berjalan menyusuri tepi sungai, menatap air yang terus mengalir. Ia adalah Rusli Waruwu, ayah yang masih mencari putra bungsunya yang hilang sejak banjir bandang menerjang desa mereka beberapa hari lalu.

“Anak saya yang paling kecil… belum ditemukan hingga sekarang,” ucapnya pelan, Minggu (30/11/2025) siang. Suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh sungai yang kini kembali tampak tenang.

Anak lelaki itu baru berusia 2,5 tahun, usia ketika seharusnya masih diisi tawa kecil dan langkah yang baru lancar. Namun kini, yang ada hanyalah kehilangan yang tidak bisa diukur dengan kata-kata.

Saat peristiwa itu terjadi, Rusli dan keluarganya berusaha menyelamatkan diri menuju arah jembatan. Di dekat jembatan itu berdiri sebuah rumah kecil, tempat mereka mencoba berlindung dari air besar yang datang tiba-tiba. Rusli menggendong satu anaknya yang lain, sementara istrinya menggendong si bungsu.

“Waktu dekat jembatan, ada rumah. Di situlah mereka bersembunyi. Aku saat itu menggendong anakku yang satu lagi,” katanya, mencoba mengulang momen yang kini terpahat tajam dalam ingatannya.

Arus air dari sungai membawa batu, kayu, dan lumpur, menghantam apa saja yang dilaluinya. Istrinya yang menggendong si kecil berusaha menapak pelan, mencari tempat yang lebih tinggi. Namun banjir bandang tidak memberi waktu, tidak memberi pilihan. Si bungsu terlepas dari gendongan.

Tidak ada seorang pun yang bisa berbuat banyak saat itu. Semua orang berusaha menyelamatkan diri masing-masing, mencoba bertahan dari air yang tiba-tiba berubah menjadi dinding raksasa.

Sejak hari itu, Rusli tak berhenti mencari. Setiap pagi ia datang ke sungai, kadang sendiri, kadang ditemani warga. Ia menatap air yang terus bergerak, seolah berharap arus akan mengembalikan apa yang direnggutnya.

Warga Garoga tahu betapa kerasnya usaha seorang ayah yang menolak menyerah. Mereka melihat Rusli berjalan pelan menyusuri tepi sungai, langkahnya berat namun tidak pernah berhenti.

Di tengah keputusasaan, ia tetap mencoba bicara dengan nada datar, berusaha tegar untuk dirinya sendiri dan untuk istrinya yang juga masih syok.

“Harapannya cepatlah ditemukan anakku ini. Kalau pun tidak… ya kami sudah ikhlas,” ucapnya.

Kalimat itu sederhana, namun mengandung pergulatan batin yang berat. Antara harapan kecil yang tersisa dan kenyataan pahit yang harus diterima. (*/Sabar Sitompul-HT)