TAPANULI TENGAH, hariantabagsel.com– Pemerhati lingkungan hidup, Dzulfadli Tambunan, mendukung penuh penyelidikan terhadap penyebab dan subyek hukum yang terindikasi berkontribusi terhadap terjadinya bencana banjir bandang dan longsor Tapanuli.
Namun, Dzulfadli meminta penyidik Bareskrim Polri melakukan pengecekan secara komprehensif dan tidak hanya berfokus pada satu titik bencana. Pasalnya, bencana ekologis yang terjadi melanda wilayah Tapanuli, khususnya Tapanuli Tengah.
“Ini bukan bencana lokal yang hanya menghantam satu desa, tapi beberapa kabupaten. Kita minta Bareskrim Polri melakukan penyelidikan secara menyeluruh pada ruang lingkup yang lebih luas, termasuk wilayah Tukka, Sorkam dan Badiri,” ujar Dzulfadli, Kamis (18/12/2025).
Pria yang telah puluhan tahun bermukim di Kecamatan Sibabangun ini mengumpamakan, banjir bandang yang melanda. Desa Garoga, Tapanuli Selatan, tidak akan terjadi jika banjir bandang tidak menghantam Desa Sibiobio dan Desa Muara Sibuntuon, Tapanuli Tengah.
Artinya, banjir bandang yang meluluhlantakkan ketiga desa bertetangga tersebut saling bertautan.
Puluhan ribu kibik kayu yang berhamburan ke Sungai Garoga sebelumnya hanyut dari Sungai Muara Sibuntuon dan Sungai Sosopan (Sibiobio).
“Penyelidikan tidak boleh hanya fokus penyebab banjir bandang Desa Garoga, tapi juga harus menyasar penyebab banjir Bandang Sibiobio dan Muara Sibuntuon,” tegasnya.
Manurut Dzul, lautan kayu yang luruh dibawa arus sungai pada saat bencana akhir November 2025 lalu, mayoritas besar berasal dari Harangan (Hutan Tapanuli) yang berada di atas 3 desa tersebut. Sungai Muara Sibuntuon dan Sungai Sosopan yang menjadi anak Sungai Garoga berasal dari hutan tersebut.
Pada saat banjir bandang terjadi, Sungai Muara Sibuntuon dan Sungai Sibiobio menghanyutkan puluhan ribu kubik kayu yang akhirnya mendarat di Desa Garoga dan wilayah sekitarnya.
Seharusnya penyidik Mabes Polri juga menelusuri kawasan hulu sungai, khususnya hulu Sungai Muara Sibuntuon di KM 28 Tornagalang, dan hulu Sungai Sosopan di Parongganggan, Tapsel.
“Silakan cek langsung ke lapangan. Masih banyak gelondongan kayu yang terdampar di daerah aliran kedua sungai,” imbuhnya.
Dzulfadli juga berharap, penyidik melakukan penegakan hukum secara objektif, tanpa dipengaruhi tekanan dari pihak manapun. Investigasi secara menyeluruh mutlak harus dilakukan, untuk mencari sumber sebenarnya dari mana asal muasal puluhan ribu kayu gelondongan.
“Jangan paksakan kehendak. Semoga tidak ada narasi chemtrail yang menjadi penyebab banjir bandang Garoga,” imbuhnya.
Dzulfadli kembali menekankan, kawasan kilometer 11 hingga kilometer 16 yang notabene merupakan kawasan hutan negara harus menjadi fokus pemeriksaan.
“Jangan hanya melihat yang di hilir saja. Telusuri alur sungai hingga ke Hutan Tapanuli,” pungkasnya. (Parlin Pohan/Dzul-HT)
