Oleh : Muhammad Ridwan Lingga
Di kaki pegunungan Tapanuli Selatan, suara mesin tambang tak mengalahkan nyanyian burung dan gemericik sungai. Di sinilah PT Agincourt Resources menjalankan tambang emas Martabe—bukan dengan cara merusak, tapi dengan semangat untuk terus menjaga.
Indonesia telah menetapkan aturan ketat bagi industri tambang. Sejak Undang – undang No. 4 Tahun 2009 dan revisinya Undang – undang No. 3 Tahun 2020, perusahaan tambang diwajibkan menjalankan praktik yang berkelanjutan. Tambahan terbaru, Undang – undang No. 2 Tahun 2025, membuka ruang bagi koperasi dan perguruan tinggi untuk ikut serta dalam pengelolaan tambang secara inklusif.
Bagi PTAR, regulasi bukan hanya sekadar kewajiban. Ia menjadi kompas moral dalam menjalankan tambang yang berpihak pada alam dan manusia. Dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2010, pedoman ESG dari BPKP, serta standar internasional seperti ICMM Principles dan TSM Protocols, PTAR membangun tambang yang tidak hanya menghasilkan emas, tapi juga harapan.
Batang Toru bukan sekadar hutan tropis. Ia adalah rumah bagi Orangutan Tapanuli, spesies primata paling langka di dunia. Di sinilah PTAR menjalankan tambang emas Martabe, dengan pendekatan yang tidak biasa: menambang sambil menjaga hutan.
PTAR menetapkan dua zona konservasi: Refugia Biodiversitas seluas 2.000 hektare di dalam konsesi tambang dan zona offset keanekaragaman hayati seluas 3.700 hektare di luar area operasi. Kawasan ini menjadi koridor ekologis penting, tempat flora dan fauna tetap hidup berdampingan dengan aktivitas industri. Bahkan, PTAR membatalkan pembangunan fasilitas yang berisiko mengganggu habitat orangutan, berdasarkan rekomendasi ilmiah.
Ilmuwan di Balik Konservasi
Dr. Onrizal, Ph.D. adalah dosen di Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU). Ia dikenal sebagai ahli biodiversitas yang telah meneliti ekosistem Sumatra selama lebih dari dua dekade. Fokus penelitiannya mencakup restorasi hutan tropis dan konservasi spesies endemik.
Dr. Sri Suci Utami Atmoko adalah Ketua Pusat Riset Primata di Universitas Nasional. Ia merupakan pakar perilaku orangutan yang aktif dalam konservasi sejak 1990-an. Penelitiannya banyak berkontribusi dalam pemahaman ekologi dan sosial orangutan di Sumatra dan Kalimantan.
Dr. Puji Rianti adalah peneliti ekologi tropis dan primata. Ia terlibat dalam pemetaan habitat dan mitigasi risiko ekologis di kawasan Batang Toru. Karyanya mendukung perlindungan spesies langka melalui pendekatan ilmiah dan konservasi berbasis data.
Rondang Siregar adalah ahli kehutanan dan konservasi yang aktif dalam penguatan kebijakan biodiversitas. Ia berperan dalam restorasi hutan dan pengembangan strategi konservasi terpadu di wilayah operasional PTAR.
Menjaga Air dan Menanam Harapan
Sungai Batang Toru bukan hanya sumber air, tetapi juga simbol kehidupan. PTAR telah memantau kualitas air sungai ini sejak 2013, melibatkan masyarakat dalam pengawasan, dan membangun Instalasi Pengolahan Air (IPA) untuk memastikan air yang keluar dari tambang tetap bersih.
Di sisi lain, rehabilitasi hutan dilakukan dengan penanaman ribuan pohon dan produksi seed ball—bola tanah berisi benih yang dilempar ke area kritis untuk memulihkan vegetasi secara alami. Program ini melibatkan masyarakat lokal, menjadikan mereka bagian dari solusi.
Cerita dari Tapian Tanoh
Di Desa Aek Ngadol, seorang petani bernama Abdurrahman Situmorang ikut menanam pohon durian di bantaran sungai. Ia percaya bahwa menjaga sungai adalah menjaga masa depan anak cucu. Di Desa Sumuran, warga menjaga zona Lubuk Larangan, wilayah konservasi berbasis adat, tempat ikan dibiarkan tumbuh tanpa gangguan.
Empat bank sampah binaan PTAR—Gocap, Satahi, Naposo Hamubaon, dan Rap Hita Paias—mengolah ribuan botol plastik menjadi ecobrick, menunjukkan bahwa konservasi bisa dimulai dari rumah. Mereka bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga bumi.
Lebah Kelulut: Penjaga Kecil yang Berdampak Besar
Sebagai pelengkap dari program konservasi, budidaya lebah kelulut (Trigona spp.) dapat menjadi langkah strategis. Lebah ini tidak menyengat, cocok untuk pemukiman, dan sangat efektif sebagai penyerbuk alami.
Madu kelulut mengandung antioksidan tinggi, propolis alami, dan enzim bioaktif yang baik untuk kesehatan. Budidaya lebah kelulut tidak membutuhkan lahan luas. Cukup dengan log batang atau kotak kayu, masyarakat bisa mulai beternak. Program ini bisa menjadi sumber ekonomi alternatif, pendukung regenerasi hutan, dan media edukasi lingkungan.
PT Agincourt Resources menunjukkan bahwa tambang bisa menjadi bagian dari solusi, bukan masalah. Dengan regulasi yang kuat, dukungan ilmiah, dan keterlibatan masyarakat, tambang emas Martabe menjadi contoh nyata bahwa ESG bukan sekadar konsep, tetapi aksi nyata. Dan mungkin, dengan lebah kelulut sebagai penjaga kecil yang tak bersuara, harmoni itu bisa semakin terasa.
Referensi
PT Agincourt Resources – Annual Report dan ESG Program: https://agincourtresources.com
Majalah Tambang – Integrasi ESG oleh PTAR: https://www.tambang.co.id/pt-agincourt-resources-integrasikan-standar-esg-dalam-operasi
ESG News – PROPER Hijau 2024 untuk PTAR: https://esgnews.id/news/pt-agincourt-resources-raih-proper-hijau-2024
Dunia Energi – Komitmen ESG dan Biodiversitas PTAR: https://www.dunia-energi.com/komitmen-esg-keanekaragaman-hayati-agincourt-resources
ELTI & Tropenbos – Petunjuk Praktis Budidaya Lebah Kelulut: https://elti.yale.edu/sites/default/files/rsource_files/meliponikultur_beekeeping_petunjuk_praktis_juni2020.pdf
Jurnal Dinamika Rekasatwa – Kajian Potensi Budidaya Lebah Trigona sp.: https://jim.unisma.ac.id/index.php/fapet/article/viewFile/24318/18246


