Penulis: Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.

Penyuluh Agama Islam KUA Tapaktuan

 

Di beberapa desa, Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi menjadi momentum penguatan iman dan evaluasi diri. Peringatan Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad ﷺ sering pula dirangkaikan dengan penutupan sementara pengajian rutin menjelang Ramadhan, sebagai tanda persiapan ruhani menyambut bulan suci.

Momentum ini sangat tepat untuk kembali menata ibadah inti umat Islam, yaitu shalat, sekaligus menilai sejauh mana shalat telah memberi dampak nyata dalam kehidupan pribadi dan keluarga kita.

1. Tanggal 27 Rajab dan Peristiwa Agung Perintah Shalat

Hari Jum’at yang lalu tanggal 16 Januari 2026 M, bertepatan dengan 27 Rajab 1447 H, kita mengenang peristiwa agung Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad ﷺ. Sebuah perjalanan luar biasa yang tidak hanya menunjukkan kemuliaan Rasulullah ﷺ, tetapi juga menegaskan kedudukan shalat sebagai ibadah paling fundamental dalam Islam.

Berbeda dengan ibadah lain, shalat diperintahkan langsung oleh Allah SWT kepada Rasulullah ﷺ di Sidratul Muntaha, tanpa perantara. Ini menandakan bahwa shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi pilar utama agama dan tolok ukur keimanan seorang mukmin.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama.” (HR. Thabrani)

Namun dengan penuh kejujuran kita harus mengakui, ayat dan hadis tentang shalat sering kita dengar, tetapi dampaknya belum sepenuhnya terasa—baik dalam kekhusyukan ibadah maupun dalam akhlak sosial dan kehidupan keluarga.

2. Shalat sebagai Cermin Ketaatan dan Ketakwaan

Shalat sejatinya adalah cermin ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Ia menghubungkan hubungan vertikal kepada Allah (ḥablum minallāh) dan seharusnya berbuah pada hubungan horizontal dengan sesama manusia (ḥablum minannās).

Allah SWT berfirman:

> **فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا**

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kemampuanmu, dan dengarlah serta taatlah.” (QS. At-Taghābun: 16).

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang realistis dan penuh rahmat, namun tetap menuntut kesungguhan dalam ketaatan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Shalat yang ditegakkan dengan kesadaran akan melahirkan:

* kejujuran,

* tanggung jawab,

* ketenangan jiwa,

* serta komitmen moral dalam kehidupan sehari-hari.

3. Dampak Shalat terhadap Kehidupan Keluarga

Shalat tidak berhenti di sajadah. Ia harus memancar dalam kehidupan rumah tangga. Kualitas shalat seseorang sangat memengaruhi kualitas hubungan dalam keluarga.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabūt: 45).

Jika shalat ditegakkan dengan benar, maka akan lahir:

* kelembutan dalam berbicara,

* kesabaran dalam menghadapi masalah,

* tanggung jawab dalam menunaikan amanah keluarga.

Jika shalat tidak berpengaruh pada akhlak, maka yang perlu dievaluasi bukan orang lain, tetapi kualitas shalat kita sendiri.

4. Cinta dalam Keluarga Harus Diwujudkan

Cinta dalam keluarga—terutama antara suami dan istri tidak cukup diucapkan, tetapi harus dibuktikan dalam sikap dan tanggung jawab.

Seorang suami yang mengaku mencintai istrinya, tetapi:

* lalai terhadap kewajiban,

* abai pada nafkah lahir dan batin,

* tidak memberi teladan iman,

maka cinta itu akan perlahan memudar dan kehilangan kesuciannya.

Shalat seharusnya menjadi pengendali ego dan emosi, agar cinta tetap terjaga dalam bingkai takwa.

5. Cinta Setengah Hati Meruntuhkan Keharmonisan

Cinta yang tidak dibingkai oleh iman akan mudah rapuh. Ketika shalat tidak menjadi pusat kehidupan:

* ego lebih dominan,

* emosi lebih dikedepankan,

* masalah kecil mudah membesar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi).

Hadis ini menegaskan bahwa akhlak di dalam keluarga adalah ukuran keimanan yang sejati.

6. Kepemimpinan Keluarga yang Lahir dari Shalat

Allah SWT berfirman:

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan.” (QS. An-Nisā’: 34).

Kepemimpinan dalam Islam bukan dominasi, melainkan amanah besar. Shalat yang tegak akan melahirkan pemimpin keluarga yang:

* adil,

* sabar,

* bertanggung jawab,

* penuh kasih sayang.

Dari rukuk dan sujud, seorang suami belajar merendahkan ego. Dari doa, ia belajar menggantungkan harapan kepada Allah.

7. Shalat sebagai Penjaga Takwa dan Ketahanan Keluarga

Allah SWT berfirman:

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thāhā: 132).

Rumah yang menjaga shalat akan menjadi:

* tempat tumbuhnya iman,

* madrasah akhlak,

* benteng dari kerusakan moral.

8. Penutup: Memperbaiki Shalat, Menyelamatkan Keluarga

Momentum 27 Rajab hendaknya menjadi bahan muhasabah, bukan sekadar seremoni.

Mari bertanya pada diri sendiri:

Sudahkah shalat kita menjaga takwa dan keharmonisan keluarga?

Shalat yang hidup akan menjadi:

* cahaya dalam rumah tangga,

* penenang saat ujian,

* penjaga cinta agar tetap suci.

“Ya Allah, jadikanlah kami dan keluarga kami termasuk orang-orang yang mendirikan shalat.” (QS. Ibrāhīm: 40).