JAKARTA, hariantabagsel.com- Tim ahli dari IPB University menyimpulkan aktivitas perusahaan sawit PT Tri Bahtera Srikandi (PT TBS) bukan penyebab utama bencana banjir bandang dan tanah longsor di Daerah Aliran Sungai (DAS) Aek Garoga, Tapanuli, Sumatera Utara, pada November 2025 lalu.

Dalam diskusi akademik terbuka yang digelar secara daring, Sabtu (10/1/2026), para pakar menegaskan bahwa bencana tersebut lebih dipicu oleh faktor alam ekstrem ketimbang aktivitas korporasi.

Diskusi bertajuk “Benarkah PT TBS Merupakan Salah Satu Korporasi Penyebab Banjir Bandang dan Longsor di DAS Aek Garoga–Tapanuli?” ini menghadirkan pakar lingkungan dan kehutanan Yanto Santosa, Basuki Sumawinata dan Idung Risdiyanto.

Berdasarkan analisis citra satelit dan kajian lapangan, tim ahli memaparkan fakta-fakta kunci seperti dominasi lahan, di mana luas area perkebunan PT TBS yang masuk ke wilayah DAS Garoga sangat kecil, yakni kurang dari 0,5% dari total luas DAS yang mencapai 12.767 hektare.

Kemudian, status lahan. Lahan tersebut bukan merupakan kawasan hutan negara, melainkan Areal Penggunaan Lain (APL) yang sebelumnya merupakan lahan garapan masyarakat.

Selanjutnya realisasi hingga tahun 2025, dari total lahan yang ada, baru sekitar 86,50 hektare yang telah ditanami kelapa sawit.

“Dari kajian hidrologi, dua anak sungai kecil yang berhulu di area kebun tidak mungkin menghanyutkan kayu gelondongan saat banjir karena dimensinya yang sempit dan berkelok,” tegas para ahli dalam paparan tersebut.

Tim ahli IPB menyimpulkan bahwa kombinasi kondisi geologis dan cuaca ekstrem menjadi aktor utama di balik bencana tersebut.

Curah hujan yang sangat tinggi, kondisi solum tanah yang tipis, batuan induk kedap air, serta kemiringan lereng yang curam menyebabkan tanah cepat jenuh dan memicu pergerakan massa tanah secara masif. (Red/Sabar Sitompul-HT)