TAPANULI SELATAN, hariantabagsel.com– Kisruh larangan wartawan oleh pihak PT AR saat akan mengikuti sesi konferensi pers dengan Parsadaan Siregar Siagian di areal PT AR memunculkan konflik berkelanjutan.

“Kita sudah terima keluar dari areal PT AR saat akan melakukan sesi konferensi pers meski sempat adu argumen dengan pihak perusahaan, tetapi yang kita protes keras itu kenapa setelah diluar PT AR pun kami masih dilarang melakukan sesi wawancara dengan Parsadaan Siregar Siagian dengan mengambil video dan foto dengan latar belakang PT AR. Apalagi salahnya disitu, itu yang kami protes. Lokasi kami wawancara itu sudah diluar “kekuasaan” PT AR. Masih juga dilarang ambil foto dan video dengan latar belakang PT AR,” ujar Indra S (BITVONLINE), Parlin Pohan (hariantabagsel.com), Mahmud Nasution (ASatuPro), Rahmad Hidayat Nasution (Signal24), Rijal Nasution (Sumut 24), Lesmana (Detiksatu.com) serta Rajesh Simanungkalit dan lainnya usai munculnya hak jawab dari PT AR.

Parahnya pada saat sesi konferensi itu pihak PT AR tetap berjaga seolah menghadang. Padahal sejak awal wartawan dan pihak Parsadaan Siregar Siagian sudah pindah posisi beberapa kali dan selalu bertanya kepada pihak perusahaan apakah bisa atau tidak melakukan sesi konferensi pers di lokasi-lokasi tersebut dan mereka menjawab tidak bisa di lokasi ini sebab ini masih di dalam lokasi Objek Vital Nasional (Obvitnas).

“Kami juga mengalah dan kami juga pertanyakan kembali kepada petugas PT AR dimana kami yang bisa dan dijawab di luar areal PT AR dan saat kami menjawab di pinggir jalan kami bisa lakukan dan petugas menjawab silahkan. Saat itu juga kami beranjak ke pinggir jalan, namun saat akan melakukan konfrensi pers tiba-tiba mereka (Pihak PT AR) datang melarang tidak boleh disitu kalau latarnya ke areal tambang ucap para wartawan.

“Kita juga sedikit banyak paham kok. Makanya setiap kali kita pilih lokasi kita tanya apakah boleh apa tidak. Setelah beberapa kali tidak diberikan izin makanya kita ngalah dan pindah ke luar area. Bahkan sampai ke jalan raya. Apa jalan raya ini juga masuk areal PT AR?. Yang membuat kita adu debat itu, sudahpun kita turuti berada di luar areal masih saja dilarang merekam video dan ambil foto saat konferensi pers dengan latar belakang PT AR. Point ini yang kita protes. Apakah itu juga tidak boleh?,” tambah para wartawan. (Rel-HT)