PADANGSIDIMPUAN, HARIAN TABAGSEL.com- Seratusan lebih masyarakat desa dan kelurahan yang terdampak kekeringan akibat rusaknya Jaringan DI Ujung Gurap menggelar aksi di depan Balai Kota Padangsidimpuan, Kamis (01/8/2024).
Pantauan media, massa yang hadir pada pukul 10.00 WIB ini mengendarai roda dua dan empat yang langsung menggelar orasi di depan balai kota mengenakan pengeras suara.
“Karena pertanian kami saat ini terkendala aliran air dikarenakan robohnya irigasi di DI Ujung Gurap yang teletak di Kelurahan Hapinis. 9 desa kini mengalami kekeringan dan pertanian rusak,” kata warga didepan kantor balai kota.
Menanggapi hal tersebut, Pj Walikota Padangsidimpuan, Timur Tumanggor bersama Sekda Letnan Dalimunthe menerima warga untuk masuk dan berbicara diruangan.
Usai mencari solusi atas persoan tersebut dengan utusan warga di ruang Walikota Padangsidimpuan, Sekda, Letnan Dalimunthe tampak keluar menemui ratusan pendemo yang didominasi kaum ibu ini yang masih menunggu di depan balai kota.
“Bapak Ibu, tadi sudah kita sepakati dan ada juga perwakilan PU Provinsi tadi. Pak Pj juga sudah mengupayakan ini, maka seminggu ini irigasi tersebut akan segera dialiri air ke pertanian bapak dan ibu. Sampaikan kabar ini kepada keluarga dan warga di desa saat kembali ke desa bapak. Titip salam kami dan mohon maaf kami,” kata Sekda Padangsidimpuan dihadapan ratusan warga yang langsung membubarkan diri menuju desa masing-masing.
Sedangkan sejumlah desa dan kelurahan yang terdampak kekeringan akibat rusaknya Jaringan Irigasi DI Ujung Gurap yakni Desa Aek Tuhul, Desa Pudun Julu, Desa Ujung Gurap, Desa Purwodadi, Desa Siloting, Kelurahan Batunadua dan Kelurahan Batu Nadua Julu.
Berita Sebelumnya
400 Hektar Sawah dan 9 Desa di Sidimpuan Alami Kekeringan, Terancam Gagal Panen
Sekitar 400 hektar sawah dan lahan pertanian di 9 Desa, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, Kota Padangsidimpuan mengalami kekeringan akibat jebolnya saluran irigasi yang mengaliri pertanian warga, Minggu (21/7/2024).
Bukan hanya lahan warga, 13 Masjid dan Mushala di wilayah tersebut juga mengalami krisis air yang sudah berlangsung berbulan-bulan.
Hal tersebut dikarenakan ambruknya saluran irigasi pertanian DI Ujung Gurap sepanjang 100 meter yang terletak di Kelurahan Batunadua Julu (Hapinis) diterjang longsor beberapa waktu lalu.
Akibatnya pasokan air yang mengaliri salurah pertanian seperti sawah dan kolam ikan warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani ini terancam gagal panen dan bangkrut.
Sedangkan krisis air tersebut sudah terjadi sejak akhir tahun 2023 lalu dan tak kunjung diperbaiki padahal wilayah ini menjadi salah satu lumbung beras Kota Padangsidimpuan.
Warga mengungkapkan bahwa pihaknya sudah kerap melalukan gotongroyong yang dikoordinir oleh 9 Kepala Desa masing-masing untuk memperbaiki saluran irigasi itu.
Namun, tingkat kerusakan yang cukup parah saluran irigasi tersebut gagal diperbaiki masyarakat.
Kepada wartawan, Kepala Desa Ujung Gurap, Abdul Rahim Dalimunthe mengatakan, persoalan irigasi ini harus cepat direspon oleh pemerintah.
“Warga sudah sangat berharap pada pemerintah untuk segera turun tangan memperbaikinya. Karena kami sudah berulang kali gorong royong bersama sejumlah desa,” kata Abdul Rahim.
Jika tidak segera diperbaiki maka akan tejadi dampak yang lebih parah bahkan akan meningkatnya angka kemiskinan.
“Iya benar, masyarakat sudah mengeluh akibat gagal panen. Setiap hari saya selalu menerima keluhan kekeringan,” ucapnya.
Diketahui, sejumlah Desa dan Kelurahan yang menjadi terdampak akibat kekeringan ini yakni, Kelurahan Batunadua Julu, Kelurahan Batunadua Jae, Desa Purwodadi, Desa Gunung Hasahatan, Desa Ujung Gurap, Desa Baruas, Desa Siloting, Desa Pudun Julu dan Desa Aek Tuhul. (SMS)
