PADANGSIDIMPUAN, hariantabagsel.com– Di tengah besarnya anggaran pembangunan infrastruktur yang digelontorkan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2026, masyarakat Kecamatan Angkola Julu, Kota Padangsidimpuan, masih harus menghadapi kondisi memprihatinkan. Jalan Rimba Soping–Joring Natobang yang menjadi akses utama masyarakat hingga kini dilaporkan mengalami kerusakan parah dan belum mendapatkan penanganan menyeluruh.

Padahal, ruas jalan tersebut merupakan jalur strategis yang menghubungkan sejumlah wilayah di Kecamatan Angkola Julu, Batunadua, dan Hutaimbaru, sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata Sibio-bio di Desa Aek Sabaon, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Kondisi jalan yang dipenuhi lubang, badan jalan yang terkelupas, serta genangan air saat hujan menjadi pemandangan yang sudah bertahun-tahun dirasakan masyarakat. Kerusakan tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan berkendara, tetapi juga berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pariwisata masyarakat.

Masyarakat menilai persoalan utama bukan lagi soal status jalan yang merupakan kewenangan pemerintah provinsi. Yang dibutuhkan saat ini adalah tindakan nyata agar jalan yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat tersebut dapat segera diperbaiki.

Pemerhati Pembangunan Tapanuli Bagian Selatan, Irfan Azhari Nasution, kepada wartawan, Jumat (26/6/2026), mengatakan bahwa kerusakan Jalan Rimba Soping yang berlangsung selama belasan tahun merupakan persoalan serius yang tidak boleh terus dibiarkan.

Menurut Irfan, pemerintah perlu melihat persoalan tersebut secara menyeluruh karena dampaknya telah dirasakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.

“Jalan bukan sekadar sarana transportasi. Jalan adalah penggerak ekonomi, akses pendidikan, akses kesehatan, dan pendukung utama pengembangan pariwisata. Ketika jalan rusak dan berlangsung bertahun-tahun, maka yang dirugikan adalah masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai kawasan Angkola Julu memiliki potensi besar yang belum berkembang secara maksimal akibat keterbatasan infrastruktur. Posisinya yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tapanuli Selatan menjadikan kawasan tersebut memiliki nilai strategis bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Menurut Irfan, kerusakan jalan telah menyebabkan biaya distribusi hasil pertanian meningkat. Petani harus mengeluarkan biaya transportasi lebih besar karena kendaraan yang digunakan menghadapi medan jalan yang berat dan berisiko mengalami kerusakan.

Selain itu, kondisi jalan yang buruk juga berdampak terhadap sektor pendidikan. Banyak pelajar harus menempuh perjalanan dengan kondisi jalan yang tidak layak, terutama saat musim hujan ketika sejumlah titik berubah menjadi licin dan berlumpur.

Sektor kesehatan pun tidak luput dari dampak kerusakan jalan. Masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan harus menghadapi perjalanan yang lebih sulit dan memakan waktu lebih lama akibat buruknya kondisi infrastruktur.

Irfan juga menyoroti dampak kerusakan jalan terhadap sektor pariwisata. Menurutnya, kawasan Angkola Julu memiliki potensi wisata alam yang cukup menjanjikan, termasuk akses menuju objek wisata Sibio-bio di Kabupaten Tapanuli Selatan.

Namun buruknya kondisi jalan membuat minat wisatawan untuk berkunjung menjadi berkurang. Akibatnya, peluang ekonomi masyarakat yang seharusnya tumbuh dari sektor pariwisata tidak berkembang secara optimal.

“Bagaimana wisata mau berkembang jika akses jalannya tidak mendukung. Padahal sektor pariwisata bisa menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat sekitar,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, Irfan mempertanyakan sejauh mana perhatian para pemangku kebijakan terhadap persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun tersebut.

Menurutnya, masyarakat berhak mempertanyakan fungsi pengawasan dan perjuangan anggaran yang dilakukan para wakil rakyat, baik di tingkat DPRD Kota Padangsidimpuan, DPRD Sumatera Utara, maupun DPR RI yang berasal dari daerah pemilihan Tapanuli Bagian Selatan.

Ia menegaskan bahwa persoalan Jalan Rimba Soping bukanlah masalah baru. Keluhan masyarakat telah berulang kali muncul dalam berbagai kesempatan, namun hingga kini belum terlihat adanya langkah besar yang mampu menjawab harapan masyarakat.

Irfan juga menyinggung komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang pada tahun 2026 mengalokasikan anggaran infrastruktur mencapai sekitar Rp1,3 triliun untuk pembangunan dan peningkatan jalan serta jembatan di berbagai daerah.

Menurutnya, masyarakat tentu berharap pembangunan tersebut dapat dirasakan secara merata, termasuk oleh warga Angkola Julu yang selama ini masih bergelut dengan jalan rusak.

“Masyarakat tentu bertanya, jika anggaran infrastruktur mencapai triliunan rupiah, apakah Jalan Rimba Soping yang sudah rusak belasan tahun belum layak menjadi prioritas pembangunan?,” ujarnya.

Ia berharap Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi jalan tersebut dan memastikan adanya program pembangunan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Harapan masyarakat sederhana. Mereka hanya ingin jalan yang aman, nyaman, dan layak dilalui. Karena pembangunan yang dirasakan masyarakat bukan sekadar angka anggaran, tetapi manfaat nyata yang bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Irfan.

Bagi masyarakat Angkola Julu, Jalan Rimba Soping bukan hanya jalur penghubung antardesa. Jalan tersebut merupakan akses utama yang menopang aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pariwisata masyarakat.

Karena itu, perbaikan Jalan Rimba Soping dinilai bukan lagi sekadar kebutuhan pembangunan, melainkan kebutuhan mendesak yang harus segera diwujudkan agar masyarakat tidak terus menjadi korban akibat kerusakan infrastruktur yang telah berlangsung terlalu lama. (Sabar Sitompul-HT)