PADANGSIDIMPUAN, HARIAN TABAGSEL.com– Akan ada pertarungan yang keras dan ekstrem nantinya antara mantan atasan dengan mantan bawahannya pada Pilkada Kota Padangsidimpuan.

Adalah Irsan Efendi Nasution sebagai mantan Walikota dan Letnan Dalimunthe sebagai mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Padangsidimpuan.

Pertarungan keduanya pada pilkada ini akan menjadi hal yang menarik. Diketahui setelah menjabat sebagai Kadinkes, Letnan adalah Sekda pilihan Irsan dan menjabat jabatan itu selama 4 tahun sejak 2019 lalu dalam proses lelang jabatan.

Sejak Letnan menjabat sebagai Pj Walikota Padangsidimpuan September 2023 setelah masa jabatan Irsan Efendi Nasution selesai tahun 2023 barulah terkuak bahwa selama menjabat Sekda, dia merasa tidak difungsikan sebagai Sekda dan disinilah pertarungan awalnya dimulai.

Berawal dari inilah kemudian muncul intrik terutama dari orang-orang dekat di sekeliling keduanya. Hingga kemudian setelah di copot dari jabatan Pj Walikota Padangsidimpuan pada Juni 2024, Letnan mengundurkan diri dari ASN dan memantapkan diri maju menjadi Cawalkot Padangsidimpuan.

Sejatinya dalam pergolakan politik jelang masa berakhirnya masa jabatan Irsan sebagai Walikota, nama Letnan bukanlah pilihan Irsan untuk menduduki posisi Pj Walikota diduga karena dianggap berpotensi nantinya menjegal niat Irsan untuk memenangi pilkada di periode kedua.

Namun, dengan kegigihan dan segala macam drama, akhirnya Letnan Dalimunthe berhasil mencapai keinginannya menjadi Pj Walikota.

Selama menjabat Pj Walikota, Letnan mendapat tantangan besar terutama dari sejumlah loyalis Irsan terutama di SKPD.

Sejumlah posisi SKPD yang lowong kemudian di isi oleh loyalis Letnan untuk mematahkan dominasi Irsan melalui lelang jabatan.

Arus pergerakan politik mulai berubah, dimana sejumlah pimpinan SKPD, Camat dan ASN non jabatan nyatakan dukungan Letnan maju jadi Cawalkot Padangsidimpuan.

Hal ini dibuktikan dengan bocornya Screenshot percakapan Grup WA SKPD ke publik yang sempat membuat heboh publik Kota Padangsidimpuan beberapa hari lalu.

Padahal chat grup itu jauh sebelum Letnan menyatakan maju di Pilkada atau di Bulan Mei atau sebulan sebelum Letnan dicopot sebagai Pj Walikota Padangsidimpuan.

Dalam periode pemerintahannya sebagai Pj Walikota, Letnan menggambarkan dirinya sebagai sosok yang lemah lembut, tidak memaksakan kehendak, memberikan ruang gerak yang bebas kepada seluruh pimpinan SKPD dan ASN.

Hal inilah yang membuat banyak ASN mulai beralih dukungan karena menganggap Letnan berbeda dengan Irsan dalam hal kepemimpinan.

Dengan Irsan digambarkan sebagai sosok yang tegas, keras, emosian, tidak memberikan ruang kepada SKPD dan tidak bisa menjadi tempat bersandar bagi ASN jika ada permasalahan.

Hanya saja kata pengamat sosial, Unggul saat ini sudah mulai terjadi gejolak di tingkat bawah yang mulai menarasikan kampanye tidak sehat.

Narasi itu adalah menyudutkan Letnan Dalimunthe yang dianggap sebagai sosok yang khianat dan tidak tahu diri kepada orang yang sudah mengangkatnya punya karir tertinggi di tingkatan ASN sebagai Sekda Kota Padangsidimpuan.

Narasi yang berkembang, Letnan digambarkan melakukan pemberontakan kepada Irsan. Demi untuk membalaskan sakit hatinya selama 4 tahun tidak difungsikan sebagai Sekda, dia maju menjadi Cawalkot Padangsidimpuan dan menjadi rival mantan atasannya, Irsan.

Kemudian isu selanjutnya, banyak juga ASN yang kesal dan benci kepada Letnan karena demi memuluskan langkahnya menjadi penguasa dan menumbangkan rivalnya yakni, Irsan Efendi Nasution diduga rela menumbalkan ASN dijerat hukum.

Meskipun kejadian korupsi ini tidak menjadi tanggung jawab Letnan karena terjadi di masa kepemimpinan Irsan Efendi Nasution, tetap saja tidak ada pembelaan yang dilakukan oleh Letnan sebagai Pj Walikota seperti halnya Irsan saat menjadi Walikota Padangsidimpuan.

Kemudian narasi berkembang bahwa aksi saling balas demo, saling balas tuding antara Irsan Efendi Nasution dengan mantan bawahan, Letnan Dalimunte diduga kerap terjadi bahkan aksi demontrasi hingga ke Kejagung dan KPK yang menarasikan mantan atasan dan bawahan ini sama-sama diduga melakukan korupsi.

Bahkan isu diluaran mengatakan bahwa aksi ini diduga didanai dan didalangi keduanya untuk saling menjatuhkan.

Hal inilah yang disesalkan Unggul, terutama kepada orang-orang sekitar keduanya yang kerap melakukan aksi saling bunuh karakter antar keduanya.

“Bagaimana sebenarnya kan kita tidak tahu ya. Hanya saja orang-orang di sekitar keduanya untuk tidak menarasikan hal yang menjurus black campaign karena dapat menggiring opini yang tidak benar,” katanya.

Sangat disesalkannya jika sampai benar adanya. Karena mempertontonkan hal yang tidak baik kepada masyarakat.

Apalagi keduanya merupakan putra terbaik dari luar daerah yang saat ini menjadi yang terbaik di Kota Padangsidimpuan ini untuk memperebutkan menjadi pemimpin Kota Padangsidimpuan.

“Semoga narasi menjurus ke black campaign ini tidak berlanjut dan segera dihentikan. Karena bisa menjadi pertentangan diantara pendukung sehingga bisa menjadikan suasana pilkada menjadi tidak kondusif. Hita do accogot, hita do haduan. Mari bersama menarasikan kebaikan kandidat masing-masing dengan tujuan untuk kebaikan Kota Padangsidimpuan,” harapnya. (PAP)