PADANGSIDIMPUAN, HARIAN TABAGSEL.com- Kondisi jalan Durian dan tebing Aek (sungai) Sibontar yang berada di Lingkungan I, Kelurahan Wek IV, Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Kota Padangsidimpuan menanti korban.

Jalan tersebut sudah sangat membahayakan untuk dilewati pejalan kaki begitu pula pengendara. Patahan bahu jalan yang tepat berada di bibir jurang dengan kedalaman sekitar 10 meter tersebut sudah terlihat dengan jelas.

Selain itu rumah penduduk yang tadinya berjarak 6 meter dari bibir jurang Aek Sibontar kini tinggal beberapa jengkal. Hal ini jelas mengancam keselamatan jiwa warga manakala sewaktu waktu terjadi longsor lagi.

Syahrul Kadri salah satu warga Jalan Durian, Lingkungan I, Kelurahan Wek IV mengatakan bahwa setiap terjadi banjir, maka terjadi longsor akibat tendangan air yang langsung ke tebing jalan dan rumah warga.

Terkait upaya warga agar ada pembangunan dek penahan sungai sudah berulang kali di sampaikan kepada pemerintah setempat.

Bahkan beberapa anggota DPRD Kota Padangsidimpuan sudah beberapa kali meninjau tempat ini, namun hingga saat ini tak ada perbaikan.

“Kondisi ini sudah sering kita sampaikan ke Pemerintah Kota Padangsidimpuan melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) maupun saat bertemu dengan pejabat terkait begitu juga kepada anggota DPRD yang kita kenal. Responnya selalu mengatakan bahwa ini akan jadi perioritas. Beberapa kali anggota DPRD datang meninjau bahkan ada anggota DPRD Sumut yang ikut meninjau, tapi nyatanya hingga hari ini belum ada perubahan. Justru yang kami dengar bahwa tahun ini, lokasi yang membahayakan ini tidak masuk dalam rencana pembangunan di Kota Padangsidimpuan. Mungkin harus makan korban jiwa dulu baru di perbaiki.” ucapnya.

Sementara itu warga lainnya Syarifuddin Nasution mengatakan bahwa kondisi pengikisan tebing ini kian terlihat saat Aek Sibontar banjir, hal ini sudah berlangsung sekitar 10 tahun.

Ia juga mengatakan bahwa persoalan ini sudah di sampaikan kepada pemerintah dan anggota DPRD baik secara resmi maupun secara peribadi, namun tindakan hingga saat ini belum ada.

Hal senada di sampaikannya bahwa beberapa kali anggota DPRD Kota Padangsidimpuan melihat keadaan ini, namun sampai hari ini keliahatannya mereka hanya sekedar melihat-lihat saja serta memberi harapan kepada warga bahwa kondisi ini akan di perbaiki.

Ditambahkan Syarifuddin Nasution apabila terjadi longsor lagi maka rumah penduduk dipastikan akan jatuh kesungai begitu juga Masjid yang ada di lingkungan ini akan turut mengalami kerusakan.

“Tak bisa di hindari lagi kalau terjadi longsor di bagian depan ini, maka mesjid jalan Durian akan kena imbas. Jadi selaku warga, kami berharap agar segera diperbaiki, jangan sesudah ada korban baru ada tindakan.” sebutnya.

Terkait keluhan dari warga, Lurah Wek IV, Sri Dewi S, Sos melalui Kepala Seksi Pembangunan Rizki Halomoan Pulungan, SH saat meninjau kondisi jalan Durian dan tebing Aek Sibontar pada Senin (27/01/2025) bersama sejumlah warga mengatakan, pihaknya sudah melaksanakan Musrenbang di Kantor Kelurahan Wek IV beberapa hari yang lalu.

Hasil Musrenbang tersebut, salah satu prioritas yaitu mengusulkan pembangunan dek penahan banjir di jalan Durian Lingkungan 1, Kelurahan Wek IV, Kecamatan Padangsidimpuan Utara.

“Kondisi jalan Durian dan tebing Aek Sibontar tersebut telah berulang kali disampaikan melalui musrenbang,” katanya.

Kemudian Halomoan juga menyebutkan, lokasi tersebut juga sudah pernah di survey atau di kunjungi oleh anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara seperti yang disampaikan warga.

Serta sudah beberapa kali di kunjungi anggota DPRD Kota Padangsidimpuan, namun sampai saat ini belum juga ada tindakan atau realisasinya.

“Tentunya dalam hal ini, kita semua berharap agar pemerintah dapat segera membangun dek penahan di Jalan Durian serta bantaran sungai di titik lainnya seperti di dekat mesjid jalan Madong Lubis, tentunya agar tidak terjadi longsor dan tidak ada korban, mengigat kondisi tebing sudah membahayakan karena sudah mengikis ke badan jalan,” ucap Halomoan.

“Melalui mekanisme musrenbang usulan ini sudah berulang kali disampaikan agar menjadi skala prioritas namun belum pernah ada realisasi. Semoga tahun 2025 ini tentunya apa yang menjadi harapkan kita bersama dapat terwujud,” tambahnya berharap. (Anas)