PADANG LAWAS, hariantabagsel.com- Persolan pasien kekurangan darah kembali terjadi di Rumah Sakit Permata Madina Sibuhuan. Pasca operasi, pasien dinyatakan kekurangan 2 kantong darah Hb ( kadar Hemoglobin) dan 5 kantong WBC (leukosit, sel darah putih), sehingga diperlukan penanganan serius.
Informasi yang dihimpun Harian Tabagsel, Minggu (27/4) keluarga pasien atas nama Nurmima Harahap tersebut merasa panik.
Ketika dihadapkan ke RSUD Sibuhuan, selaku pemilik UTDRS (unit transfusi darah rumah sakit), tidak mengizinkan melakukan transfusi. Seperti alasan sebelum sebelumnya, hubungan antar rumah sakit yang tidak harmonis, karena tidak adanya kerja sama diatas kertas.
Jika mau transfusi, pasien harus dipindah ke RSUD Sibuhuan. Namun karena alasan tidak harmonis, RS Permata Madina enggan.
Akhirnya, keperluan darah terpaksa harus dijemput ke Kota Padangsidimpuan.
“Ke Sidimpuan lah di jemput,” kata Henri Dalimunte, keluarga pasien.
Sebelumnya, persoalan pasien kekurangan darah di RS Permata Madina kerap terjadi. Bahkan sampai meninggal dunia juga pernah terjadi di rumah sakit swasta itu.
Ironisnya, pihak rumah sakit masih saja mengambil risiko, meski tidak ada stok darah, dan persentase operasi tidak selalu mulus, namun tetap melakukan operasi pasien. Dan ujungnya dibebankan pada keluarga pasien, untuk berhadapan dengan pihak RSUD Sibuhuan.
Dikarenakan larutnya perseteruan antar kedua rumah sakit tidak ada titik temu, ditambah tidak adanya kesepakatan kerja sama, RSUD tetap tidak mengizinkan melakukan transfusi darah. Meski melanggar sumpah kedokteran, yang mengacu pada sisi kemanusiaan.
“Tidak ada jalan tengah (antara kedua rumah sakit). Sakit kepala mengurusnya. Dan (soal RS Permata Madina tetap ambil risiko laksanakan operasi, red) sudah kita komunikasikan kemarin,” sebut Kadis Kesehatan Pemkab Palas, Amelia Roitona MKM.
Sayangnya, kedua pihak rumah sakit tidak ada respon saat dihubungi. Malah, Direktur RSUD Sibuhuan, dr Afandi Siregar masih saja memblokir awak media ini sejak lama. (Parningotan Aritonang)


