Juli Zega: Sekretaris Yayasan Burangir (Lembaga yang selalu concern dalam pembelaan terhadap kekerasan Anak dan Perempuan) 

Kematian Diva adalah duka yang menghentakkan diri kita semua, menguras emosi yang tak bisa terlampiaskan. Seketika seluruh perasaan terpusat atas peristiwa mengenaskan ini. Diva ditemukan tak bernyawa dan dikubur di tanah bekas galian dalam keadaan telanjang dan tak wajar.

Diva adalah pasukan paskibraka dalam seremoni upacara hari kemerdekaan RI ke-80 tahun ini. Dengan semangat dalam dada karena dirinya menjadi salah satu yang terpilih berperan menjadi anggota paskibraka.

Sore menjelang malam selesai latihan, dengan sisa tenaga yang ada dia kembali ke rumahnya menelusuri jalan yang jaraknya cukup jauh. Ditengah jalan dia masih memberikan pertolongan tandanya dia punya jiwa sosial tanpa pernah berpikir sosok yang dibantunya inilah yang akan merenggut nyawanya.

Diva ditugaskan mensyukuri kemerdekaan, namun kemerdekaan diambil paksa dari dirinya. Kemerdekaan untuk hidup, menggapai cita-citanya dan mati secara terhormat.

Diva tidak boleh mati sia-sia. Kematiannya harus menjadi simbol perjuangan melawan setiap tindakan kejahatan terhadap anak dan perempuan di manapun, terkhusus di Kabupaten yang berslogan daerah yang beradab.

Kisahnya tidak boleh berlalu begitu saja. Harus ada perubahan total dari sebuah sistem perlindungan anak yang kuat di wilayah tersebut. Bagaimana anak-anak mendapatkan perlindungan kemerdekaannya secara penuh.

Hari ini sangat layak untuk dipertanyakan, apakah pemerintah dan seluruh stakeholdernya terutama kelompok masyarakat akan melakukan pembiaran. Apakah tokoh pemuda dan organisasi kepemudaan memiliki gerakan melindungi setiap anak dari tindakan kekerasan.

Mandailing Natal (Madina) dalam beberapa hari ini terjadi kejadian kriminal yang menggemparkan publik. Sebelum tragedi pembunuhan terhadap DIVA, masih jelas di ingatan kita bahwa telah terjadi dua kali pembunahan oleh seorang anak terhadap ibu kandungnya.

Begitu juga berkali-kali TNI menemukan ladang ganja serta puluhan kali polisi menangkap kurir ganja. Ada apa dengan Pemkab Madina, tokoh-tokohnya, civil societynya, pemudanya, mahasiswanya?.

Masyarakat yang tinggal di Madina dan di perantauan menunggu tindakan atau aksi pemerintah, bukan hanya wacana untuk terwujudnya Mandailing yang bermartabat. (***)