Penulis : Dhafa Pohan
Angin seolah ikut bersemangat menyambut peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Ia tak membiarkan bendera itu lusuh, terus berhembus agar Sang Merah Putih yang menempel pada becak vespa di parkiran dekat Alaman Bolak tetap berkibar ketika aku lewat.
Tak jauh dari situ, beberapa becak berjejer. Namun ada yang ganjil, bukan lagi Vespa sebagai motor penariknya, melainkan motor modern dengan tangki besar di sisinya. Seperti ada babak yang pelan-pelan selesai. Melewati bangunan yang sering disebut pos kota, konon Bung Karno pernah berorasi di sana. Aku teringat bahwa kota ini pernah punya cara sendiri merayakan nasionalisme, bukan hanya lewat upacara, tetapi lewat denyut kehidupan sehari-hari.
Ketika jari ini mengetik “becak Sidimpuan” di kolom pencarian Google, sebuah berita dari tahun 2016–2017 muncul, sekitar lima ribu becak vespa pernah memenuhi jalanan kota ini, menjadi ikon yang tak tergantikan. Kini, jumlah itu merosot drastis. Di sisi lain, saya ingat pernah membaca bahwa beberapa kolektor dan influencer dari luar daerah, bahkan dari Jawa, datang ke Sidimpuan untuk berburu vespa bukan becaknya, hanya bodinya.
Pertanyaan pun muncul, apakah para penarik becak menjualnya karena desakan ekonomi? Ataukah harga tinggi yang ditawarkan kolektor terlalu menggiurkan untuk ditolak? Apapun alasan itu, kemungkinan tidak terlepas dari faktor ekonomi rasanya.
Aku coba sedikit menjadi akademis dengan menyebut teori, bukan upaya untuk terlihat pintar, melainkan pengingat bahwa setiap kebijakan yang baik seharusnya berangkat dari kajian yang terukur. Sebab tanpa kerangka berpikir yang jelas, kita mudah terjebak pada solusi sesaat yang mengorbankan potensi jangka panjang. Baiklah Kembali ke teori tadi yakni path dependence, keputusan masa lalu membentuk jalur yang memengaruhi masa depan, bahkan ketika teknologi baru tersedia.
Becak vespa bertahan bukan semata karena tidak ada pilihan lain, melainkan karena ekosistem pendukungnya harus terbentuk, montir yang ahli, bengkel dengan suku cadang yang melimpah, dan masyarakat yang nyaman menggunakannya. Melepaskan becak vespa tanpa strategi sama saja memutus jalur itu, dan kita kehilangan modal sejarah yang seharusnya menjadi pembeda.
Padahal, ada peluang yang bisa dirangkai dari sini. Pemerintah Kota dapat membentuk koperasi khusus penarik becak vespa. Jika ada yang ingin menjual, koperasi membeli dan menyewakannya kembali kepada anggota dengan sistem setoran ringan. Koperasi ini tak hanya mengatur kepemilikan, tetapi juga memelihara ekosistem becak itu sendiri. Mulai dari jaringan montir, bengkel, hingga penyedia suku cadang agar keberlangsungan vespa terjaga secara menyeluruh.
Dengan begitu, vespa tetap beroperasi, identitas kota terjaga, dan pendapatan asli daerah bisa meningkat. Kebijakan ini pun bisa dirancang bersama akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Padangsidimpuan, agar berbasis kajian dan berkelanjutan.
Larut dalam pikiran itu, aku tiba di sebuah warung kopi kecil. Aroma kopi Sipirok panas menyambut dari pintu. Hangatnya pas menemani pagi yang penuh nuansa kemerdekaan. Tapi pahitnya, entah kenapa, terasa berbeda, seperti menggigit lidah dengan kisah hidup para penarik becak yang harus melepaskan identitas historis-nya demi bertahan. Pahit yang tidak hanya ada di cangkir, tapi juga di kenyataan.
Kopi Sipirok sama halnya dengan becak vespa, punya nilai yang tak kasat mata tapi membuatnya unik, tanah tinggi yang subur, udara dingin yang menenangkan, dan tangan petani yang telaten. Namun sering kali nilai ini hilang di tengah arus modernisasi, karena kebijakan lebih sibuk menghitung angka produksi daripada menjaga cerita yang menyertainya.
Kopi Sipirok, bagai becak Vespa, memiliki nilai tak kasat mata, subur tanah, udara dingin, tangan petani yang telaten yang sering hilang tergerus modernisasi karena kebijakan lebih fokus pada angka produksi daripada menjaga cerita yang menyertainya. Kini, kedai kopi menjamur di setiap sudut Padangsidimpuan, namun yang berkembang justru ruang konsumsi, bukan penguatan kapasitas petani dan pemain di hulu.
Padangsidimpuan sesungguhnya memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), dari produksi di kebun hingga penyajian di kafe. Agar potensi ini benar-benar terealisasi, pemerintah daerah perlu menjadi motor penggerak, memfasilitasi pelatihan barista, roaster, uji rasa, sekaligus memperkuat kelembagaan koperasi lokal dan sinergi dengan akademisi serta pelaku industri.
Dengan langkah ini, akan tercipta ekosistem penguatan SDM yang berkelanjutan, membangun simbiosis mutualistik, desa produsen memperoleh nilai tambah, sementara kota menikmati pertumbuhan ekonomi yang merata dan berkelanjutan.
Ekosistem itu ibarat rantai nilai yang tersambung rapi dari petani yang menanam dan merawat, ke proses roasting yang menjaga rasa, lalu ke storytelling yang membungkus pengalaman, hingga berujung pada premium price yang pantas dibayar pembeli. Jika salah satu mata rantai hilang, nilai yang seharusnya berlipat justru tercecer. Dan di sanalah kita sering kalah, bukan karena kualitas yang buruk, tetapi karena cerita kita belum tersampaikan dengan baik.
Kemerdekaan, pada akhirnya, bukan hanya soal upacara dan bendera yang berkibar di alun-alun. Ia juga tentang keberanian menjaga jati diri sambil melangkah maju.
Dan di Padangsidimpuan, jati diri itu ada di roda Vespa yang berderum di jalan dan di uap kopi Sipirok yang mengepul dari cangkir. Keduanya mengajarkan bahwa nilai sejati tak hanya dihitung dalam rupiah, tetapi juga dalam cerita yang kita pilih untuk terus hidupkan. (***)


