Penulis: Dhafa Pohan

 

Secangkir kopi tidak pernah sekadar minuman. Ia menyimpan sejarah panjang peradaban manusia.

Di dunia Islam pada abad ke-15, kopi—atau qahwa—menjadi teman setia para ulama dan pedagang. Dari masjid hingga pasar, ia menghidupkan malam-malam panjang penuh diskusi, doa, dan ilmu.

Beberapa abad kemudian, kopi menyeberang ke Eropa. Coffee house di Inggris dan Prancis menjelma “universitas rakyat”—tempat para pedagang, penulis, dan pemikir bertukar gagasan. Dari cangkir kopi, lahir keberanian untuk mempertanyakan kekuasaan. Revolusi Prancis bahkan tak bisa dilepaskan dari warung kopi yang menjadi pusat perdebatan.

Saking berbahayanya, penguasa Ottoman hingga raja-raja Eropa sempat melarang kopi. Mereka takut dari secangkir hitam pekat itu, lahir keberanian untuk melawan.

Sejarah itu mengajarkan: kopi bukan hanya pengusir kantuk, melainkan simbol kesadaran, pemantik keberanian, bahkan api perubahan.

Hari ini, “Ngopi yok” menjadi ajakan paling sederhana sekaligus paling akrab di telinga kita. Ia bisa keluar dari mulut siapa saja, mahasiswa, pejabat, aktivis, bahkan kawan lama yang sekadar ingin bertemu. Ngopi bukan lagi sekadar rutinitas melepas kantuk, tetapi bagian dari gaya hidup modern.

Coffee shop dan cafe tumbuh di berbagai kota, menjamur hingga ke pelosok. Data mencatat konsumsi kopi nasional terus meningkat, pertanda budaya ngopi makin kuat. Di Padangsidimpuan, tren ini juga terasa. Kota yang dikelilingi kebun kopi Mandailing dan Sipirok kini penuh dengan cafe baru. Meja-meja dipenuhi obrolan, aroma kopi menyeruak, dan unggahan foto semakin ramai.

Ngopi hari ini bukan hanya aktivitas, tapi simbol pertemuan, ruang tukar cerita, bahkan identitas.

Namun, di balik aroma kopi itu, ada getir yang tak bisa disembunyikan. Saat di berbagai daerah mahasiswa turun ke jalan, bahkan sampai jatuh korban jiwa dalam demonstrasi, Padangsidimpuan justru sunyi.

Lebih dari itu, kabar yang beredar justru melukai hati masyarakat, di media sosial tersebar kabar tentang seorang ketua organisasi mahasiswa yang terlihat ngopi bersama anggota DPRD di sebuah cafe. Benar atau tidaknya kabar itu, sulit diverifikasi.

Namun, jika benar, kita bisa berandai bahwa sang anggota dewan sambil tersenyum berkata: “Mana posisi adinda, mari kita ngopi sore ini.” Sebuah kalimat ringan, tapi dalam bayangan publik justru terdengar seperti satire pahit.

Karena “ngopi” yang dulu menjadi ruang lahirnya gagasan dan keberanian, kini seakan berubah menjadi simbol kompromi. Dari cangkir yang seharusnya menguatkan idealisme, justru lahir pelemahan nurani dan tumpulnya empati.

Tidak berhenti di sana. Akun resmi DPRD Padangsidimpuan bahkan mengunggah foto-foto pertemuan sejumlah tokoh mahasiswa dan pemuda dengan anggota DPRD dan aparat kepolisian. Wajah-wajah mereka terlihat akrab, dialog pun tampak mesra.

Dialog dengan siapapun tentu tidak salah. Tetapi kemesraan yang dipertontonkan, di saat institusi itu sedang banyak dikritisi publik, justru terasa menyesakkan. Mahasiswa yang seharusnya berdiri sebagai kekuatan moral, kini terlihat lebih nyaman duduk di cafe, mengobrol mesra dengan kekuasaan.

Kopi, yang seharusnya simbol diskusi kritis, justru kehilangan pekatnya. Ia berubah hambar, seperti suara mahasiswa Sidimpuan yang semakin sulit terdengar.

Padangsidimpuan bukan kota asing bagi lahirnya gagasan besar. Dari tanah ini, seorang pemuda bernama Lafran Pane pernah menyalakan ide yang kemudian melahirkan organisasi mahasiswa terbesar di negeri ini.

Lafran Pane percaya bahwa mahasiswa harus berdiri independen, menjadi kekuatan moral, dan tidak larut dalam kompromi golongan maupun kekuasaan. Dari ruang diskusi sederhana, ia mampu melahirkan gerakan yang mengguncang sejarah bangsa.

Andai Lafran Pane masih hidup hari ini.

Mungkin ia akan duduk di salah satu cafe di Padangsidimpuan, menatap anak-anak muda yang sibuk mengobrol sambil menggulir layar ponsel. Ia mungkin akan mendengar kabar tentang tokoh-tokoh mahasiswa yang mesra berdialog dengan DPRD dan aparat keamanan, sementara di kota-kota lain rekan sebaya mereka bertaruh nyawa di jalanan.

Apakah ia akan marah? Ataukah ia hanya akan terdiam, mengis pilu, menyaksikan tanah kelahirannya kehilangan idealisme yang dulu ia perjuangkan?

Kita tidak tahu. Tapi yang pasti, sejarah pernah mencatat bahwa dari ruang kecil dan sederhana, Lafran Pane berani melahirkan gagasan besar. Dan sejarah juga sedang mencatat, apakah mahasiswa Sidimpuan hari ini masih mewarisi keberanian itu, atau justru memilih diam dalam kenyamanan cafe.

Kopi selalu punya rasa. Pahit, manis, asam, pekat—ia jujur pada dirinya sendiri.

Mahasiswa seharusnya begitu: jujur pada nurani, setia pada moral, berani pada kebenaran. Bukan jujur pada kekuasaan, bukan setia pada kenyamanan, bukan berani hanya di balik meja cafe.

Padangsidimpuan mungkin kini ramai cafe dan coffee shop, penuh dengan tawa dan unggahan foto, tapi terlalu sunyi dari suara mahasiswa yang kritis. Sejarah kota ini pernah melahirkan seorang Lafran Pane—pemuda yang dari ruang diskusi sederhana mampu menggetarkan bangsa.

Hari ini, sejarah menunggu apakah mahasiswa Sidimpuan masih mewarisi keberanian itu, atau justru memilih larut dalam gelas kopi yang manis di bibir, namun hambar dalam pikiran. (“)