TAPANULI SELATAN, hariantabagsel.com– Suasana agenda Diseminasi Air Sisa Proses PT Agincourt Resources (PTAR) Semester I Tahun 2025 yang digelar bersama Pemkab Tapanuli Selatan pada 16 September 2025 cukup menarik perhatian.

Salah satu warga Muara Batangtoru, Ashari Lubis, menyampaikan unek-uneknya terkait kondisi sungai di sekitar area tambang emas Martabe.

Menurutnya, jumlah ikan di muara kian hari semakin menurun, terutama di titik pembuangan air dari PTAR yang bermuara ke Hutaraja hingga Batu Mundom.

“Kalau di ujung sana ikan sudah berkurang, di tempat pembuangan air PT AR, di Muara Hutaraja sampai ke laut Batu Mundom. Ikan-ikan di muara makin lama makin sedikit, ini sudah terjadi bertahun-tahun,” ujar Ashari kepada wartawan.

Ia juga menambahkan fenomena lain yang justru bikin resah warga, meningkatnya populasi buaya di sekitar Sungai Batangtoru.

“Yang lebih parah, buaya semakin banyak di daerah Sugani Batangtoru. Kami jadi takut turun ke sungai,” ucapnya.

“Semenjak ada PT AR, ikan berkurang. Tapi di sisi lain, hasil uji desiminasi sisa air selalu dinyatakan bermutu,” tambahnya.

Sementara itu, Manager Environmental PT Agincourt Resources, Mahmud Subagya, berdalih bahwa perusahaan selalu mengedepankan pengelolaan lingkungan.

Katanya hasil uji sampel air sisa proses pada September 2025 menunjukkan 11 parameter kualitas air berada di bawah ambang batas sesuai regulasi Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 202 Tahun 2004.

“PTAR mengoperasikan Instalasi Pengolahan Air (IPA) di dalam site Martabe. Instalasi ini dilengkapi teknologi modern yang dirancang khusus agar air yang dilepas ke lingkungan tetap aman bagi ekosistem sekitar,” dalih Mahmud.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen menjaga keanekaragaman hayati kawasan Batangtoru yang dikenal sebagai salah satu ekosistem penting di Sumatera Utara.

“Keberlanjutan ekosistem Batang Toru selalu jadi perhatian utama kami. Kawasan ini punya keanekaragaman hayati yang luar biasa, sehingga perusahaan memastikan aktivitas tambang tidak merusak keseimbangan alam,” ucapnya meski tidak sesuai dengan keluhan warga di atas. (Parlin Pohan-HT)