TAPANULI SELATAN, hariantabagsel.com– Hujan deras dan cuaca ekstrem yang terus mengguyur Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan sekitarnya, menyebakan 13 Kecamatan terdampak musibah bencana alam berupa banjir dan tanah longsor. Salah satunya di Kecamatan Angkola Selatan, bertempat di Desa Tandihat, telah terjadi tanah retak dan longsor.

Sekitar 500 orang warga Tandihat memilih meninggalkan rumahnya, untuk mengungsi sementara di posko pengungsian sejak kejadian dan sehari setelahnya. Informasi dihimpun wartawan Harian Tabagsel di posko bencana alam, bahwa bencana alam tanah retak dan longsor terjadi pada hari Rabu (26/11/2025) lalu.

Salah satu warga Tandihat, Nursosa Hasibuan (50) bercerita kepada Harian Tabagsel mengatakan, bahwa kejadian ini, membuat dirinya dan warga lainnya merasa sedih yang mendalam.

“Saya dan warga lainnya, sudah tinggal kurang lebih 35 tahun disana, baru kali ini ada keadaan tanah retak dan mengeluarkan air sedikit, serta sebagian longsor,” ucapnya dengan mimik wajah bersedih.

Nursosa juga berharap kiranya Bupati Tapsel untuk sementara nantinya bisa memberikan tempat yang baru untuk mereka tinggali.

“Kami sudah takut tinggal disana dek, apalagi saat ini hati saya dan warga lainnya sangat sedih, marosros ate-atei (sedih sangat sedih) melihat rumah kami hancur perlahan,” ceritanya.

Nursosa juga bercerita kejadian yang melanda Desa Tandihat tempat tinggal mereka terjadi setelah hujan deras mengguyur, setelah terlihat rumah, jalan, tanah, dan sekolah, semuanya turun perlahan. Sehingga setelah kejadian mereka memilih mengungsi ke posko pengungsian di Desa Perkebunan Marpinggan (simpang jalan) menuju Desa Tandihat.

Warga lainnya, Annum Harahap (58) juga mengatakan hal yang sama, dimana setelah kejadian langsung mengungsi, dan hanya laki-laki yang berjaga malam hari di Desa Tandihat. Sedangkan bekal mereka, ada yang mengantarkan ke lokasi.

Tokoh Adat Desa Tandihat, Amusyahran Dalimunteh (70) gelar Baginda Sori Taon berharap agar warga jangan ada lagi yang tinggal disana saat kondisi saat ini.

“Kejadian longsor anakku, sudah terjadi sekitar 3 kali disini, pertama pada tahun 1960, kemudian 1988 dan yang lebih parah tahun 2025”, katanya kepada wartawan Harian Tabagsel.

Kepala Desa Tandihat, Ranto Panjang Sipahutar menghimbau agar masyarakat jangan ada lagi yang memasuki area perkampungan yang retak, untuk menjaga keselamatan dan terhindar dari marabahaya.

“Saya menghimbau, agar warga jangan ada lagi memasuki area perkampungan yang retak, karena bisa membahayakan nyawa dan mengancam keselamatan,” katanya kepada Harian Tabagsel.

Pantauan Harian Tabagsel dilapangan, jalan menuju Desa Tandihat banyak yang amblas dan retak, beberapa warga juga terlihat mengangkut sebagian perlengkapan menuju pengungsian. (Saipul Bahri Siregar-HT)