TAPANULI TENGAH, hariantabagsel.com– Puluhan ribu kubik kayu gelondongan yang mengalir di Sungai Aek Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), belakangan dituding berasal dari aktivitas PT Tri Bahtera Srikandi (PT TBS). Namun tudingan tersebut dibantah keras oleh sejumlah warga Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).

Masyarakat mengaku heran jika kayu-kayu tanpa pemilik tersebut langsung diklaim berasal dari lahan PT TBS. Menurut mereka, perlu dilakukan pengecekan fakta lapangan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir aliran sungai.

“Harus dikaji ulang. Dicek langsung di lapangan dari hulu sampai ke hilir. Bagaimana mungkin kayu gelondongan yang jumlahnya puluhan ribu kubik itu berasal dari lahan PT TBS,” ujar Sari Oka Napitupulu, yang di dampingi Khairul Efendi Silitonga dan Saut Parulian Aritonang, warga Desa Anggoli, Kabupaten Tapteng.

Sari Oka menegaskan, jangan sampai dalam kondisi bencana pihak tertentu justru mengkambinghitamkan perusahaan yang selama ini dinilai tertib dalam pengelolaan lahan.

“Apa mungkin kayu dari kebun TBS melompat ke Sungai Garoga?,” sebutnya dengan nada bertanya.

Terpisah, A Fandi Zebua, warga Desa Muara Sibuntuon menuturkan, secara geografis, bila terjadi longsor di kawasan PT TBS, kayu gelondongan justru akan hanyut ke Sungai Sibabangun, bukan ke Sungai Aek Garoga.

“Kalau memang ada longsor, otomatis kayu akan jatuh Sungai Sibabangun, bukan ke Aek Garoga. Jadi siapa pun yang bilang kayu itu dari PT TBS, silakan cek langsung ke lapangan, jangan asal klaim,” ujar Zebua yang juga turut menjadi korban bencana ekologis yang terjadi akhir November 2025 lalu ini.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Anggoli, Oloan Pasaribu,. Ia menilai mustahil kayu gelondongan yang berada di Sungai Garoga bersumber dari kebun Plasma PT TBS.

Oloan mengakui jika terdapat beberapa titik longsor di sekitar kebun tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa kawasan tersebut merupakan daerah mata air. Logikanya, di bawah masih banyak kebun masyarakat yang masih alami. Kalau pun ada longsor kecil, kayunya pasti tertahan dan tidak mungkin sampai ke Sungai Garoga.

“Itu sangat mustahil,” ujarnya.

Bahkan, Oloan mengaku telah melakukan pengecekan menggunakan drone dari area mata air hingga anak Sungai Aek Na Hombar. Dari hasil pemantauan tersebut, ditemukan sekitar 10 titik longsoran besar yang sebagian besar berasal dari lahan masyarakat, bukan dari area kebun Plasma.

“Itu longsoran dari lahan masyarakat, tapi bukan dari kebun Plasma,” ucapnya.

Ia juga menyinggung video yang beredar di media sosial, yang diunggah oleh Kepala Desa Sibibio, Tapteng. Dalam video tersebut, terlihat debit air pada peristiwa 25 November 2025 jauh lebih besar dan disertai kayu-kayu yang berluruhan.

Dalam video tersebut, terlihat sungai Sosopan yang berasal dari Garonggang, Tapanuli Selatan, meluluhlantakkan Desa Sibiobio.

“Kalau ada yang menuding kayu itu dari kebun PT TBS, ya aneh saja. Makanya, penyelidikan ini harus dilakukan secara objektif dan menyeluruh,” katanya.

Oloan menyarankan agar penyelidikan difokuskan pada daerah aliran sungai (DAS) mulai dari temuan kayu hingga ke hulu. Menurutnya, sumber kayu gelondongan lebih masuk akal berasal DAS sebelah kiri Sungai Garoga, yang notabenenya merupakan wilayah Tapanuli Selatan.

“Saya perkirakan kayu yang terbawa arus itu akibat longsor dan sebagian berasal dari dataran rendah di DAS yang sebelumnya sudah digarap masyarakat. Jumlahnya bisa ratusan kubik,” ujarnya. 

Hal yang sama juga dikatakan Kepala Desa Hutagurgur, Rinto Harean Hutagalung. Dia mengatakan bahwa aliran sungai dari wilayah Hutagurgur alirannya ke Simanosor hingga ke Lumut, Kabupaten Tapteng.

“Tidak ada alirannya ke Sungai Garoga. Jadi rasanya tidak masuk akal PT TBS penyebab banjir. Sepengatahuan kami tidak ada kondisi bencana di areal perkebunan itu,” tegasnya.

Dikatakannya luas areal PT TBS yang ada di daerahnya itu seluas sekitar 200 hektar yang dekat dengan pemukiman ada di Dusun 3 dan 4. (Dzul Tambunan-HT)