TAPANULI SELATAN, hariantabagsel.com– Warga Kampung Tanah Lapang, Desa Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan dikejutkan dengan datangnya kembali air sungai mengalir ke sekitar rumah dan pemukiman mereka, padahal air sudah 25 tahun lalu sudah berhenti mengalir, hanya saja parit kecil yang ada.
Kejadian ini terjadi sekitar tanggal 28 Desember 2025 lalu, mereka berhamburan keluar rumah untuk mengungsi ke tempat aman, ada yang menuju sebuah Gereja Katolik di Kampung Tanah Lapang.
Salah satu warga Kampung Tanah lapang, saat diwawancarai Harian Tabagsel di lokasi menceritakan peristiwa yang sangat mengejutkan dan mencekam itu, Itolo Gulo (33) dan istirinya Efriani Halawa (33) yang sudah tinggal sejak 10 tahun dilokasi, sangat terkejut dengan peristiwa ini.
Itolo Gulo seorang kepala keluarga yang memiliki 3 buah hati, dan istrinya menceritakan kepada Harian Tabagsel, bagaimana peristiwa yang sangat mencekam itu terjadi.
“Sore hari itu, dengan tiba-tiba datang mata air besar dari Sungai Aek Pardomuan ke parit yang ada di samping rumah, kami terkejut pak, dan langsung menyelamatkan diri ke tempat yang aman,” katanya.
Tanpa membawa apapun dari dalam rumah, mereka berhasil selamat, hanya saja, semua bahan makanan basah direndam air.
“Beras kami basah semua pak, kami saat ini kesulitan, karena suami tidak bisa bekerja, karena banyak yang longsor sekitar tempat bekerja,” ucap sang istri Efriani Halawa.
Seorang ibu lansia Nibenia Mendrofa (63) juga mengungkapkan kepada Harian Tabagsel mereka terkejut dengan peristiwa ini, bagaimana tidak, sudah 25 tahun tidak ada aliran sungai di sekitar pemukiman ini.
“Apabila air ini terus mengalir disini, nantinya semua rumah kami akan hanyut dibawa arus air, saya berharap, agar air bisa dinormalisasikan ke tempatnya, yaitu Sungai Malombu,” sebutnya.
Nibenia juga berharap Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu agar datang mengunjungi meraka, dan melihat keadaan parit yang sudah menjadi aliran sungai disekitar pemukiman mereka.
“Sudah hampir satu bulan kami gak bekerja pak, kiranya bantuan beras dan sembako lainnya bisa datang membantu kami,” harapnya kepada pemerintah dan sukarelawan.
Yenni Yati Raha (34) ibu rumah tangga juga mengatakan peristiwa mencekam itu terjadi sekitar pukul 17.30 sore hari, air hujan datang berkisar setengah jam, akan tetapi air sangat besar hingga mereka pergi mengungsi.
“Kolam ikan lele tetangga saya hancur, ratusan ternak hanyut, kebun pisang rusak parah dan rata dengan tanah dan kini menjadi aliran sungai,” katanya.
“Kami mohon kepada pemerintah agar air sungai ini dikembalikan ke tempat semula, ada juga Gunung Masoji yang akan longsor, jadi kami khawatir pak,” tambahnya.
Informasi dihimpun dari Camat Angkola Sangkunur, Daniel Affandi Harahap, SSTP, MM, untuk keluarga terdampak berkisa 54 KK dan 266 jiwa di Dusun Kampung Tanah, Desa Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan. (Saipul Bahri Siregar-HT)
