TAPANULI SELATAN, hariantabagsel.com– Bentang alam Batangtoru kini berada dalam kondisi kritis. Paru-paru hijau yang menjadi kebanggaan Sumatera Utara tersebut dilaporkan terus menyusut akibat aktifitas ekstraktif seperti pertambangan emas, PLTA dan perkebunan sawit, ditambah  memperparah dengan maraknya alih fungsi lahan dan aktivitas penebangan liar. Dampaknya tidak hanya terasa di daratan, namun juga merambah ke ekosistem air, di mana Sungai Batangtoru kini berubah menjadi kawasan yang kumuh dan tercemar.

Hasil pantauan udara menunjukkan degradasi hutan yang signifikan di wilayah penyangga. Hilangnya vegetasi hutan menyebabkan daya serap tanah terhadap air hujan menurun drastis. Akibatnya, saat musim penghujan tiba, debit air sungai meluap membawa sedimen lumpur dan sampah sisa kayu, sementara di musim kemarau, sungai tampak dangkal dan keruh.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Batangtoru itu dulu dikenal dengan kelestarian hutannnya dan sungai Batangtoru dikenal dengan “cermin alam”, sekarang telah banyak berubah, hutannya hilang, sungainya kumuh. Bahkan ancaman bencana ekologi atau bencana alam susulan, kerap kali mengantui masyarakat,” ujar Hendra Hasibuan Ketua DPW Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumatera Utara.

Ekosistem Hutan Batangtoru benar-benar merupakan sumber kehidupan bagi ribuan warga mulai dari hulu sampai hilir, dan juga menjadi rumah bagi satwa langka yakni Orangutan Tapanuli dan Harimau Sumatera.

Di sepanjang aliran sungai, tumpukan sampah dan sisa banjir bandang kemarin memenuhi tepian, ditambah lagi Sungai Batangtoru dijadikan sebagai pembuangan air sisa pengolahan limbah pertambangan emas yang ada di Batangtoru, semua ini menjadikan sungai Batangtoru terkesan telah terkontaminasi dari berbagai aspek, sehingga menciptakan terlihat kumuh yang kontras dengan keindahan masa lalu. Hilangnya rimbun pepohonan di bantaran sungai juga mempercepat erosi, yang kini mengancam pemukiman warga dan lahan pertanian.

“Saat ini yang paling di khawatirkan adalah kondisi Jembatan Trikora, bekas atau dampak dari bencana yang terjadi kemarin menyisakan bantaran Sungai Batangtoru mengancam robohnya Jembatan Trikora, yang di khawatirkan itu kan datangnya hujan yang sangat lebat yang menimbulkan Sungai Batangtoru kembali membesar, sehingga mengikis bantaran sungai yang mengakibatkan erosi, berakibat menghancurkan penopang Jembatan Trikora,” ungkap Hendra Hasibuan.

Warga meminta pemerintah segera turun tangan dengan peninjauan lapangan dan penguatan tebing agar jembatan tidak sampai putus. Jembatan ini merupakan akses utama ekonomi dan pendidikan warga, sehingga kegagalan struktur berisiko memutus mobilitas sehari-hari.

Masyarakat setempat mendesak stabilitas jembatan, termasuk pemasangan beronjong/krib serta normalisasi sungai sebelum musim hujan berikutnya. Pemerintah Daerah dan Balai Besar Jembatan diminta turun lapangan demi menghindari putusnya akses vital tersebut.

“Benar saat ini terlihat Jembatan Trikora Batangtoru terancam putus akibat erosi setelah hujan deras menggerus tebing Sungai Batangtoru. Erosi dan longsor di bantaran sungai terus melebar, rumah di dekat sungai, badan jalan, dan struktur jembatan dilaporkan kian terancam amblas. Masyarakat setempat saat ini sangat khawatir jika ada banjir susulan datang. Kita mendesak pemerintah untuk segera turun kelapangan untuk meninjau turun dan melakukan kajian perbaikan agar jembatan tersebut nantinya tidak amblas,” kata Hendra Hasibuan yang juga Koordinator JAMM (Jaringan Advokasi Masyarakat Marjinal).

Jembatan Trikora Batangtoru ini merupakan salah satu simbol paling bersejarah di Kabupaten Tapanuli Selatan, dan bahkan merupakan satu-satunya jalur ekonomi dan perhubungan untuk semua aspek kehidupan. (Rel-HT)