PADANGSIDIMPUAN, hariantabagsel.com– Keberangkatan Tim Soeratin U-13 dan U-15 SSB Sayap Biru yang membawa nama Kota Padangsidimpuan ke Soeratin Cup Wilayah III di Kota Sibolga, Senin, 24 Agustus 2026, semestinya menjadi kabar menggembirakan.

Anak-anak usia muda mendapat kesempatan bertanding, mengembangkan kemampuan dan membawa nama daerah di lapangan sepak bola.

Namun, di balik semangat keberangkatan itu, muncul satu pertanyaan yang tidak kalah penting: bagaimana sebenarnya pembiayaan para atlet tersebut?.

Pertanyaan itu mencuat setelah beredarnya video di media sosial Facebook yang diunggah akun @Ali Akbar. Dalam video tersebut, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Padangsidimpuan, Hasanuddin Sipahutar, menyampaikan dukungan terhadap keberangkatan tim.

Hasanuddin mengatakan tim tersebut berangkat setelah melalui proses seleksi dan membawa nama Kota Padangsidimpuan. Ia juga menyebut keberangkatan itu mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

Menurut Hasanuddin, Wali Kota Padangsidimpuan bersama Ketua KONI dijadwalkan hadir untuk menyaksikan pertandingan. Ia berharap anak-anak yang bertanding mampu memberikan hasil terbaik sekaligus menjunjung sportivitas.

Pesan tersebut tentu patut diapresiasi. Sebab, pembinaan atlet usia dini memang tidak semata-mata soal menang atau kalah. Ada proses pendidikan karakter, disiplin, kerja sama dan keberanian yang dibangun melalui kompetisi.

Tetapi, pembinaan olahraga juga membutuhkan tata kelola yang jelas.

Di sinilah persoalan biaya menjadi penting untuk dijelaskan kepada publik.

Salah satu komentar warganet, @Irma Wahyuni Hasibuan, menyinggung adanya keluhan dari orang tua peserta mengenai biaya yang harus dikeluarkan.

Komentar tersebut tentu belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa telah terjadi persoalan dalam pembiayaan tim. Namun, keluhan itu cukup menjadi alasan bagi pengelola olahraga dan pemerintah daerah untuk memberikan penjelasan secara terbuka.

Sebab, ketika sebuah tim disebut membawa nama Kota Padangsidimpuan, publik berhak mengetahui sejauh mana dukungan pemerintah diberikan.

Apakah seluruh kebutuhan atlet ditanggung pemerintah atau KONI?.

Apakah orang tua masih harus mengeluarkan biaya tertentu?.

Jika memang ada kontribusi orang tua, untuk kebutuhan apa saja?.

Dan jika terdapat anggaran pemerintah, berapa besar dukungan tersebut serta melalui mekanisme apa?.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu justru penting agar tidak muncul prasangka di tengah masyarakat.

Jangan sampai orang tua menjadi penanggung beban.

Pembinaan atlet usia dini seharusnya tidak berhenti pada seremoni pelepasan atau video keberangkatan.

Ada hal yang lebih mendasar, yakni memastikan anak-anak dapat bertanding dengan tenang tanpa dibayangi persoalan pembiayaan.

Orang tua tentu ingin anaknya mendapatkan pengalaman terbaik. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai biaya yang harus ditanggung.

Apalagi jika tim tersebut membawa nama pemerintah daerah yakni Kota Padangsidimpuan.

Transparansi bukan berarti mencurigai pengurus olahraga. Sebaliknya, keterbukaan justru dapat melindungi lembaga olahraga dari tudingan yang tidak perlu.

Jika seluruh pembiayaan memang telah ditanggung melalui anggaran atau sumber pendanaan yang sah, penjelasan terbuka akan membuat persoalan menjadi terang.

Sebaliknya, jika terdapat komponen biaya yang dibebankan kepada orang tua, hal itu juga sebaiknya disampaikan sejak awal secara rinci.

Prestasi Jangan Hanya Diukur dari Medali

Pemerintah daerah tentu patut memberikan perhatian kepada sepak bola usia dini. Tetapi ukuran keberhasilan pembinaan olahraga tidak hanya terletak pada trofi.

Ada pula indikator lain yang tak kalah penting: transparansi, pemerataan kesempatan, fasilitas latihan, kompetensi pelatih, perlindungan atlet dan kejelasan pembiayaan.

Anak-anak yang turun ke lapangan adalah aset olahraga daerah.

Karena itu, mereka tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek untuk mengejar prestasi atau simbol keberhasilan pembinaan.

Mereka harus mendapatkan sistem pembinaan yang sehat dan berkelanjutan.

KONI sebagai organisasi yang menaungi pembinaan olahraga di daerah juga memiliki ruang untuk menjelaskan persoalan tersebut secara terbuka.

Terlebih, ketika informasi mengenai biaya sudah menjadi pembicaraan publik.

KONI dan Askot PSSI Belum Memberikan Penjelasan

Hingga berita ini diterbitkan, Ketua KONI Kota Padangsidimpuan Hasanuddin Sipahutar belum memberikan penjelasan mengenai biaya yang berkaitan dengan keberangkatan atlet.

Sama halnya dengan Plt Ketua Askot PSSI Kota Padangsidimpuan, Paisal Ashabi.

Ketiadaan jawaban tersebut tidak serta merta berarti ada persoalan dalam pembiayaan.

Namun, justru karena belum ada penjelasan, ruang pertanyaan publik masih terbuka.

Karena itu, klarifikasi dari KONI, Askot PSSI maupun pihak terkait menjadi penting.

Masyarakat tidak membutuhkan jawaban yang berputar-putar. Yang dibutuhkan sederhana: siapa yang membiayai, berapa besar biaya yang dikeluarkan dan apakah ada biaya yang dibebankan kepada orang tua atlet.

Keterbukaan seperti itu justru akan memperkuat kepercayaan publik.

Keberangkatan Tim Soeratin U-13 dan U-15 SSB Sayap Biru semestinya menjadi momentum positif bagi sepak bola Padangsidimpuan.

Jangan sampai kabar tentang perjuangan anak-anak di lapangan justru tertutup oleh pertanyaan mengenai pembiayaan yang tidak kunjung terang. (Rel-HT)