TAPANULI SELATAN, hariantabagsel.com– Perjuangan keras dan perjalanan yang sangat panjang ditunjukkan salah satu organisasi masyarakat Sipil Satya Bumi, yang berangkat dari Jakarta 2 Agustus lalu, dan akhirnya tiba dengan selamat di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Perjalanan melelahkan tersebut dilalui hanya untuk memperingati Hari Orangutan Sedunia yang jatuh pada 19 Agustus setiap tahunnya.
Organisasi Satya Bumi bersama Koalisi masyarakat sipil lainnya; Walhi Sumut, GJI, OIC, SHI Sumut, dan SALI, tiba di Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan untuk menggelar Aksi damai dan seruan tegas untuk menjaga hutan, dan jaga Orangutan Tapanuli (Pongo tapanulisiensis) bertempat di Jembatan Trikora, Desa Hapesong Baru, Rabu (19/8/2026) pagi.
Berangkat dari Jakarta hingga Kota Padangsidimpuan dengan bersepeda selama lebih dari dua minggu dan menempuh jarak 1.700 Kilo Meter, tidak mematahkan semangat Koalisi masyarakat Sipil untuk menggaungkan Jaga Hutan dan Jaga Orangutan Tapanuli.
Perjalanan rombongan dilanjutkan ke Tapanuli Selatan, dan menjadi bukti sejarah bahwa masyarakat dari luar daerah sangat peduli terhadap keadaan Orangutan Tapanuli dan hutan di sekitar ekosistem Batangtoru. Setelah sampai di Kecamatan Batangtoru, organisasi Koalisi masyarakat Sipil dari Satya Bumi, Walhi Sumut, OIC, GJI, SALI, dan SHI Sumut, menggelar aksi damai di jembatan Trikora.
Aksi Damai yang di inisiasi Koalisi Masyarakat Sipil tersebut, bertujuan untuk memberikan edukasi dan mengajak masyarakat luas di Tapanuli Raya untuk menjaga hutan, menjaga Orangutan, dan berbagai satwa yang dilindungi di sekitar ekosistem Batangtoru.
Direktur Eksekutif Satya Bumi, Andi Muttaqien dalam orasinya mengatakan, Orangutan Tapanuli menjadi tolak ukur apakah hutan masih baik atau tidak. Ia menegaskan ketika Orangutan itu terancam, dan ketika Orangutan itu semakin terancam, maka bisa dipastikan hutannya sudah hilang tegasnya.
Andi juga mengatakan bahwa apa yang di suarakan disini bukan hanya perlindungan terhadap Orangutan, tapi juga terhadap hutan dan seluruh masyarakat yang ada di sekitarnya.
“Hari Orangutan Internasional setiap tahun diperingati di seluruh dunia, hal ini untuk melihat kembali sejauh mana perlindungan yang dilakukan kepada habitat Orangutan,” tegasnya.
Walhi Sumut Ajak Elemen Masyarakat Jaga Hutan dan Jaga Orangutan
Staff Kampanye dan Advokasi Walhi Sumut, Maulana Shidiq Gultom dalam orasinya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga hutan, dan jaga Orangutan khususnya Orangutan Tapanuli (Pongo tapanulisiensis).
“Terima kasih untuk teman-teman yang hari ini berkumpul, baik dari aktivis, lingkungan, masyarakat Sipil yang sudah membersamai untuk memperingati hari orangutan sedunia yang jatuh pada tanggal 19 agustus bertepatan dengan momentum hari kemerdekaan,” katanya.
Maulana Gultom juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Satya Bumi yang sudah jauh datang dari Jakarta, dan juga komunitas sepeda yang hari ini berkomitmen serta membuktikan kepada kita, bahwasanya ada salah satu satwa ataupun primata yang patut kita lindungi secara bersama-sama, baik itu dari stakeholder, masyarakat sipil dan pihak-pihak lainnya.
Menurutnya, keberadaan Orangutan yang ada di tapanuli khususnya menjadi pengingat bahwasanya keberagaman satwa dan keanekaragaman, serta keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia itu sangat perlu dilindungi.
“Tiga spesies orangutan yang ada di Indonesia, tapanuli termasuk ke dalam bagian satwa yang paling rentan akan kepunahan. Di antara ke-3 spesies tersebut. Orangutan Tapanuli masuk ke dalam satwa yang kemungkinan 10 tahun atau 15 tahun lagi akan masuk ke dalam zona kepunahan,” tegasnya.
Ia menegaskan banyak indikasi penyebab kepunahannya, apakah itu dari sektor kebijakan pemerintah?, apakah itu dari perburuan liar dan berbagai macam penyebabnya.
Lebih jauh, Maulana menegaskan kedatangan koalisi masyarakat sipil yang tergabung di jembatan trikora Batang Toru hari ini, untuk membuktikan bahwa masyarakat yang ada di luar Sumatera utara terus berkomitmen untuk menjaga kelestarian Orangutan, khususnya Orangutan Tapanuli.
Tapanuli Raya saat bencana beberapa waktu lalu menjadi bahan refleksi untuk kita secara bersama-sama. Setiap tahun Orangutan tapanuli mengalami kerentanan yang semakin masif, yang awal jumlah populasinya adalah sekitar 800 individu, dan sekarang menurun drastis menjadi 531 individu, hal tersebut terjadi karena berbagai faktor penyebabnya.
Maulana Shidiq menegaskan di momen Hari Orangutan Sedunia 2026 ini, Ia mendesak Kementerian dan lembaga terkait untuk lebih peduli terhadap Orangutan. Selain itu, keanekaragaman hayati yang ada di sekitar Tapanuli Raya itu harus dilindungi, baik dari Kementerian kehutanan, pihak penegak hukum, instansi terkait dan yang lainnya.
“Salah satu primata cantik ini sudah masuk ke dalam zona punahan. Kami datang untuk memberitahukan dan mengajak seluruh elemen masyarakat, seluruh stakeholder untuk bersama-sama menjaga keanekaragaman hayati yang ada di Tapanuli Raya terkhususnya,” ajak Maulana.
Ia juga menyoroti Rumah dan habitat dari Orangutan Tapanuli yang menurutnya sudah terganggu oleh kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada habitatnya, dan tidak berpihak kepada masyarakat setempat seperti; sektor pertambangan, energi, dan perkebunan katanya kepada wartawan.
“Kita sebagai aliansi masyarakat sipil dan juga pemerhati lingkungan memberikan desakan ke Kementerian kehutanan, dan Kementerian yang lainnya untuk tidak memberikan izin apapun di dalam wilayah ataupun kawasan yang mempunyai ekosistem esensial satwa dilindungi,” tegasnya.
Walhi Sumut mendesak hal tersebut kepada Kementerian, khususnya agar tidak ada aktivitas apapun. Seharusnya pemerintah tidak memberi pelepasan, baik pelepasan kawasan hutan untuk hal-hal tertentu yang mengganggu habibat Orangutan.
Ketua SHI Sumut Beri Pesan Bermakna di Hari Orangutan Sedunia
Katua Sarikat Hijau Indonesia (SHI) Sumatra Utara Hendra Hasibuan memberikan pesan yang bermakna di peringatan Hari Orangutan Sedunia tahun 2026 ini. Hendra Hasibuan berharap habitat Orangutan harus terus terjaga dengan baik, dan laju deforestasi dihentikan agar hutan tetap lestari.
“Semua pihak termasuk generasi muda dan masyarakat harus terus aktif dalam menjaga kelestarian hutan dan keberlangsungan hidup Orangutan Tapanuli,” pesannya.
Lebih lanjut, Ketua SHI Sumut menghimbau agar hutan terus dijaga dan dilestarikan masyarakat agar habitat Orangutan Tapanuli bisa terjaga dan jangan sampai hanya sebuah cerita kepada anak cucu di masa yang akan datang tandasnya. (Saipul Bahri Siregar-HT)
