TAPANULI SELATAN, hariantabagsel.com– Ada yang unik dan aneh pada pelantikan eselon II dilingkungan Pemkab Tapanuli Selatan (Tapsel) pada hari ini, Jumat (19/9).

Bagaimana tidak Bupati Tapsel, Gus Irawan Pasaribu melantik dr Sri Khairunnisa sebagai Kepala Dinas Kesehatan. Padahal sudah diketahui umum dan khalayak luas bahwasanya pada era Dolly Pasaribu sebagai Bupati Tapsel diketahui dr Sri Khairunnisa mundur dari jabatannya diduga karena dr Sri Khairunnisa sebagai Kepala Dinas dan Sekretaris Dinkes Tapsel pada Jumat (9/9/2022) lalu diduga kedua nama tersebut terlibat kasus penerimaan pegawai non PNS pada awal tahun 2022 hingga menyebabkan demo ratusan tenaga honorer yang di rumahkan.

Akibat demo besar-besaran kala itu dari honorer Tenaga Kesehatan (Nakes) yang dirumahkan akibat dugaan kasus penerimaan pegawai non PNS ini menyebabkan tekanan kepada Bupati Dolly sehingga menyebabkan atau diduga menjadi alasan dr Sri Khairunnisa dan beberapa pejabat Dinas Kesehatan lainnya menyatakan mundur.

Namun hanya kurang dari setahun sejak Gus Irawan menjabat Bupati Tapsel kemudian lelang terbuka untuk posisi Kepala Dinas Kesehatan dibuka karena posisi Kepala Dinas dijabat Plt.

Hingga posisi 3 besar yang lolos lelang hingga akhir yakni Farwis Rizky dengan jabatan sebagai Kabag Administrasi Kesekretariatan, Program, dan Keuangan Sekretariat DPRD Tapsel, kemudian dr. Emilda Arisanti dengan jabatan Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Kadis Kesehatan Tapsel serta dr. Sri Khairunnisa yang sebelumnya pernah menjabat (mantan) Kadis Kesehatan Tapsel. Saat ini menempati posisi Dokter Ahli Madya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tapsel di Sipirok.

Dan, ya sangat mengejutkan Bupati Tapsel, Gus Irawan Pasaribu akhirnya memilih mantan Kadis Kesehatan Tapsel, dr Sri Khairunnisa mengisi posisi jabatan Kepala Dinas Kesehatan.

“Sebenarnya sejak masuknya nama-nama yang ikut lelang kita sudah menduga. Ditambah rumor yang beredar di sekitaran Dinas Kesehatan juga lingkup orang dekat Bupati. Sebenarnya kita tidak dalam posisi dukung mendukung. Hanya saja Bupati seharusnya melihat juga persoalan mental, moral dan kesiapan dari personalitynya. Sangat berbahaya jika nanti hal yang sama terulang kembali ketika dihadapkan pada persoalan yang tinggi pressurenya. Kita berharap Bupati tidak lepas tangan ketika persoalan muncul dan ada ketidakberdayaan bawahan pilihannya dalam menuntaskan persoalan,” kata pemerhati kebijakan, UF Hasibuan.

Menurutnya yang lebih penting dan sangat urgent diganti saat ini adalah Sekretaris Dinas Kesehatan, Suryadi yang sudah terlalu lama mencengkram semua urusan di Dinas Kesehatan dalam segala hal.

“Kalau boleh saran kepada Bupati, seharusnya Suryadi ini yang harus segera di buang. Benalu seperti ini hanya akan membuat kinerja Dinas Kesehatan buruk karena dia itu menguasai segala hal mulai proyek dan segala hal lainnya. Padahal saat ini Dinas Kesehatan sedang ditunggu persoalan kaki gajah, TBC-Paru, Stunting dan lain sebagainya yang membutuhkan kerja nyata. Bukan cuma soal proyek semata,” ujarnya.

Untuk itu dirinya meminta Bupati segera melakukan refresh beberapa jabatan di lingkungan Dinas Kesehatan. (Rel)