PADANG LAWAS, hariantabagsel.com– Kabar terbaru, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sibuhuan, dr Afandi Siregar mengundurkan diri. Surat pengunduran diri bersama dua Bendahara di RSUD masing-masing Nur Asiyah Ritonga selaku Bendahara Pengeluaran dan Nurlina Harahap selaku Plt Kasubbag Keuangan disampaikan langsung yang bersangkutan ke ruang kerja Bupati, Rabu (30/4) sore.

Pengunduran diri direktur yang diperkirakan telah menjabat 21 bulan ini bak gelombang tsunami. Tiba-tiba saja.

“Iya, tadi sore (surat pengunduran diri, red) sampai,” kata oknum terpercaya di kantor bupati, dan diperkuat BKPSDM, tembusan surat.

Namun herannya langkah direktur dan dua bendaharanya itu diduga bentuk tidak bertanggung jawab. Apalagi ditengah banyak PR dan tugas yang belum dituntaskan.

Sebut saja alat CT Scan yang belum kunjung turun dari kementerian kesehatan. Padahal, keterangan Afandi kepada Harian Tabagsel sebelumnya, hanya tinggal persiapan penambahan daya listrik, dan alat itu akan turun dari pusat. Bahkan untuk mendorong realisasinya, penambahan anggaran juga sudah dilakukan tahun 2025 ini.

Belum lagi persiapan Dokter Spesialis Radiologi sebagai penunjang pengadaan CT Scan tersebut. Belakangan, dokter spesialis ini masih tahap proses.

Pengunduran diri Afandi juga dilakukan ditengah gelombang puluhan honor tenaga kesehatan di RSUD tersebut yang dirumahkan. Beberapa perwakilan honor, sempat meminta penyelesaian agar mereka yang sudah masuk data base, dipanggil dan dipekerjakan kembali.

Persoalan ini sempat mengundang perhatian Bupati dan Wakil Bupati, Putra Mahkota Alam Hasibuan-Achmad Fauzan Nasution. Saat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang), Rabu (30/4) siang masalah ini diperbincangkan.

Di depan Bupati dan Wakil Bupati, Ketua DPRD, tenaga ahli, serta Inspektur, perwakilan honor dan Direktur RSUD dihadirkan. Tampak pembicaraan serius bercampur harapan belas kasih perwakilan honor saat itu. Hasilnya, ada secercah harapan, para honor akan dipekerjakan kembali.

Lebih dari itu, pengunduran diri ketiganya juga bersamaan sedang adanya pemeriksaan awal di daerah oleh BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Hanya saja, belum diketahui pasti, apa alasan direktur dan dua orang dekatnya sejak di Puskesmas Binanga ini mundur.

Nur Asiyah Ritonga yang dikonfirmasi lewat nomor selulernya, tidak merespon. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi, alasan mereka mundur.

Direktur dan bendahara RSUD mengundurkan diri ditengah banyak masalah. Hal ini diyakini sebagai upaya melarikan diri dari banyaknya persoalan, yang seolah seperti gelombang Tsunami.

Selain masalah CT Scan, pengangkatan honor, soal kerja sama dengan RSU Permata Madina Sibuhuan juga belum tuntas. Dimana selama masa Afandi persoalan darah kerap muncul.

Padahal hubungan rumah sakit pemerintah dan swasta ini sebelum-sebelumnya harmonis saja. Namun setelah di tangan Afandi, seolah rumah sakit aset rakyat itu, miliknya. Dan hingga berkesan, tak ada yang bisa membantah, tanpa izinnya. (Parningotan Aritonang)