PADANG LAWAS, hariantabagsel.com– Hari pertama penghalauan oleh tim BBKSDA terhadap Beruang Madu sejak dilaporkan Selasa kemarin, ini Rabu (27/8) belum menuai hasil. Diduga satwa liar ini sudah berpindah lokasi, mengarah ke habitatnya menuju hutan.

Hingga sore tim memutuskan untuk kembali dan akan melanjutkannya besok (Kamis) mencari info keberadaan satwa, baik secara langsung maupun dari info  masyarakat.

“Tim bersama melakukan monitoring keberadaan satwa guna dilakukan penghalauan, penggiringan namun Tim tidak menemukan lokasinya. Sudah berpindah diduga mengarah kembali ke habitatnya,” jelas Siti Wahyuna, Kasie IV BBKSDA kepada Harian Tabagsel.

Penanganannya kata Siti, terkait munculnya Beruang di tengah pemukiman masyarakat (komplek Al muhajirin) Kecamatan Barumun Kabupaten Padang Lawas pada hari Selasa 26 Agustus 2025, sudah dilakukan koordinasi dengan pihak Pemda Padang Lawas dan  Tim Bersama. Tim bersama itu BBKSDA Sumut, BPBD, Kelurahan, Camat Barumun, Satpol PP,  Dinas LHK, Polres Palas, Koramil Barumun,  Manggala Agni beserta masyarakat. Perlu diketahui, Beruang Madu merupakan Satwa Dilindungi sesuai PP nomor 7 tahun 1999, dan lebih rinci dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.20 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

“Sesuai SOP maka penanganan yang akan dilakukan adalah penghalauan satwa agar kembali ke habitatnya,” sebut Siti.

Adanya informasi masyarakat terkait satwa Beruang terlihat keberadaannya di kebun yang berada di tengah pemukiman masyarakat pada Selasa /26 Agustus 2025 kemarin, maka respon tim adalah melakukan pemantauan langsung ke lokasi guna mengetahui kondisi satwa. Seiring situasi masyarakat sekitar serta lokasinya.

Dari hasil analisa Tim bahwa satwa masih muda (anakan menjelang remaja). Secara visual sehat bergerak lincah.

Dan menurut tim BBKSDA ini, kemungkinan penyebab satwa beruang masuk ke pemukiman adalah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang menjadi rumah/habitatnya, karena mencari makan. Makanannya berupa telur rayap, madu, nira, buah, pucuk pohon/tunas muda dll.

“Namun kita juga mendapat informasi beberapa masyarakat mengatakan sudah melihatnya, karena tidak mengganggu maka tidak terlalu dikawatirkan sehingga dibiarkan. Tim berharap kejadian ini menjadi edukasi bagi semua elemen untuk bisa hidup berdampingan dengan alam serta menjaga kelestarian dan keberlanjutan kawasan hutan. Sehingga ketersediaan air tetap terjaga, dan dampak satwa keluar hutan sebagai rumahnya bisa diminimalisir,” tandasnya. (Parningotan Aritonang)