TAPANULI SELATAN, hariantabagsel.com– Organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Batang Toru (Samudera, Elsaka, SRI, GJI, Walhi Sumut, OIC), JAMM dan SHI Sumut melakukan distribusi bantuan tahap kedua ke masyarakat terdampak bencana alam banjir di Desa Bandar Tarutung dan Kampung Tanah Lapang Desa Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, Senin (12/1/2026) siang.
Bantuan ini berupa Makanan kering siap konsumsi, higyne kits (alat kebersihan), dan logistik lainnya untuk meringankan masyarakat yang terdampak bencana alam banjir tersebut.
Tiba di Desa Bandar Tarutung sekira pukul 15.30 Wib dengan menggunakan sebuah mobil jenis Trietone, rombongan melewati akses jalan yang digenangi air banjir akibat luapan sungai Bayang Toru dan sungai Malombu.
Kepala Desa Bandar Tarutung, H. Sulhan Sihombing menyambut hangat rombongan dan terlihat berbincang-bincang tentang kondisi desa saat banjir bandang melanda pemukiman.
“Saya atas nama masyarakat Desa Bandar Tarutung mengucapkan rasa terimakasih kepada Aliansi Beta, yang sudah datang melihat kondisi desa kami dan memberikan bantuan kemanusiaan ini, semoga Allah SWT selalu melindungi kita dalam setiap aktivitas dan dimudahkan segala urusan,” ucap kades dengan penuh haru.
Rombongan Aliansi Beta juga dengan dipandu beberapa warga meninjau dan melihat langsung kondisi warga terdampak banjir bandang di Desa Bandar Tarutung.
“Disana saya lihat, ibu-ibu mencuci pakaian dengan air yang kurang bersih, yaitu air luapan sungai Bayang Toru, semoga kedepannya akan ada air bersih untuk layak digunakan untuk membersihkan pakaian mereka,” ucap Hendra Hasibuan yang saat ini diamanahkan menjadi Ketua Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Provinsi Sumatera Utara.
Ketua Greend Justice Indonesia (GCI) Sofyan Adli juga ikut dalam penyerahan bantuan kemanusiaan ke wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan yang terdampak bencana alam.
“Satu pesan untuk kita semua, mari menjaga bumi dengan baik, karena bumi adalah tempat tinggal kita semua, kalau bumi rusak, maka kita semua akan ikut merasakan dampaknya dalam segala hal,” tegasnya.
Sofyan Adli yang sudah puluhan tahun dan berpengalaman menjadi relawan bencana alam diberbagai titik di Indonesia sudah melihat langsung, bagaimana kondisi masyarakat yang terdampak bencana alam tersebut.
“Saya atas nama Aliansi Beta, sangat ikut berduka atas musibah bencana alam yang melanda Sumatra, seperti di Kabupaten Tapanuli Selatan ini, kami sudah berkeliling ke beberapa Kecamatan terdampak bencana alam, hampir semuanya menyisakan duka yang mendalam, baik secara fisik, meteri, dan kerugian lainnya, semoga keadaan ini secepatnya pulih,” ucap Sofyan Kepada Harian Tabagsel di lokasi.
Setelah selesai melakukan kegiatan di Desa Bandar Tarutung, rombongan Aliansi Beta selanjutnya menuju Desa Batu Godang, tepatnya di dusun Kampung Tanah lapang. Rombongan disambut baik Kepala Dusun Kampung Tanah Lapang dan Kadus mengapresiasi Aliansi Beta.
Kepala Desa Batu Godang melalui Kepala Dusun Kampung Tanah Lapang, Hanto Gulo sebagai perwakilan masyarakat, mengucapkan rasa terimakasih kepada Aliansi Beta yang sudah menyerahkan dan membantu mereka pasca bencana banjir di sekitar pemukiman.
‘‘Kami atas nama masyarakat Kampung Tanah Lapang, mengucapkan ribuan terimakasih, hanya Tuhan-lah yang bisa membalas kebaikan bapak dan ibu pengurus Aliansi Beta, semoga selamat sampai ke tujuan,” katanya penuh haru seraya bercerita bagaimana air banjir datang kembali ke sekitar pemukiman warganya.
Amatan Harian Tabagsel di lokasi banjir di Desa Bandar Tarutung, untuk sementara ini, masyarakat masih kesulitan untuk memasuki area perkampungan akibat genangan air di jalan, hanya ada perahu karet yang membantu meringankan pengendara roda dua, sedangkan untuk roda empat harus ekstra hati-hati melewatinya.
Sementara itu, disisi lain, Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru sekitar Desa Bandar Tarutung, yang kawasannya termasuk salah satu area hilir sungai, juga ada banyak kayu gelondongan yang hanyut dari hulu tettumpuk sekitar perkebunan warga.
Di lokasi warga sekitar juga bercerita perihal kayu gelondongan yang diduga berasal dari hulu menyebutkan, masih ada tumpukan kayu yang lebih banyak lagi, sekitar area hilir dekat Aek Rambe.
“Disana pak, ada tumpukan kayu gelondongan yang tertumpuk, sekitar 5 kilometer kayu-kayu itu, yang saat ini, tidak bisa dilewati perahu warga untuk melakukan aktivitas sehari-hari,” ucap warga kepada Harian Tabagsel. (Saipul Bahri Siregar-HT)

