TAPANULI SELATAN, hariantabagsel.com– Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) sejak sore menyebabkan Sungai Batang Angkola meluap. Luapan air menggenangi badan Jalan Lintas Sumatera di Desa Aek Libung dan merendam pemukiman warga, Rabu (20/5/2026) malam.

Ketua Naposo Nauli Bulung Desa Aek Libung, Arif Zulkarnaen Lubis saat dihubungi, menyebutkan banjir berulang terjadi karena petugas Bendungan Batang Angkola terlambat membuka pintu air dan tidak ada petugas yang piket sama sekali di lokasi saat debit air naik.

*Warga Kecewa Petugas Bendungan Tidak Ada di Lokasi*

Arif mengaku mewakili masyarakat Desa Aek Libung menyampaikan keberatan atas kinerja petugas bendungan. Menurutnya, setiap kali hujan deras mengguyur wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padangsidimpuan selama kurang lebih satu jam, debit air Sungai Batang Angkola langsung naik dan meluap.

“Saya sebagai Ketua Naposo Nauli Bulung Desa Aek Libung dan mewakili masyarakat Desa Aek Libung, kami merasa keberatan dan kecewa terhadap petugas bendungan Batang Angkola karena keterlambatan dan tidak ada yang piket di bendungan. Makanya air sungai yang berada di Desa Aek Libung meluap ke jalan raya,” ujar Arif saat dikonfirmasi, Kamis 21/5/2026 malam.

Ia menjelaskan, jika petugas sigap membuka pintu bendungan sesuai standar operasional, air sungai tidak akan meluap hingga ke jalan dan rumah warga. Namun kondisi di lapangan, kata Arif, tidak ada petugas yang berjaga di lokasi bendungan.

“Aturannya mereka sigap membuka pintu bendungan itu, air sungai tidak meluap. Jadi itu semua penyebabnya petugas bendungan yang berada di bendungan tidak ada yang piket. Jadi kami warga pun tidak tahu melapor ke mana,” katanya.

Arif mengaku sudah mencoba menghubungi petugas bendungan pada Kamis malam, namun tidak mendapat tanggapan.

“Tadi malam saya sempat menelpon dengan petugas bendungan tapi tidak ada tanggapan. Mereka tidak acuh sama kami,” ujarnya.

Tampak Jalan Lintas Sumatera di Desa Aek Libung tergenang air cukup tinggi pada Kamis malam. Arus kendaraan roda dua dan roda empat melintas perlahan karena genangan. Beberapa rumah warga yang berada di bantaran sungai juga tergenang air bercampur lumpur.

“Banjir genangi badan jalan dan rendam pemukiman warga. Air sungai yang berada di Desa Aek Libung meluap ke jalan raya lintas Sumatera yang berada di desa kami. Rumah warga ikut digenangi air Sungai Batang Angkola,” jelas Arif.

Kondisi ini membuat jalur vital penghubung Sumatera Utara dan Sumatera Barat terganggu. Pengendara diminta berhati-hati karena genangan bisa menyembunyikan lubang dan benda berbahaya di badan jalan.

Sebagai perwakilan warga, Arif meminta perhatian langsung dari Pemkab Tapanuli Selatan, Balai Wilayah Sungai Sumatera II, Dinas PUPR Provinsi Sumatera Utara, hingga Kementerian Pekerjaan Umum.

“Saya sebagai Ketua NNB meminta kepada Pemkab Tapsel, Bapak bagian PU Provinsi, dan Bapak Menteri PU tolong Pak diperhatikan anggotanya supaya mereka ada yang piket dan selalu di area lokasi Bendungan Batang Angkola. Supaya kami tidak was-was terus Pak,” tegasnya.

Menurut Arif, kehadiran petugas piket 24 jam di bendungan sangat penting, terutama saat musim hujan. Keterlambatan membuka pintu air hanya beberapa jam sudah cukup membuat air meluap ke wilayah pemukiman.

Banjir yang berulang di Desa Aek Libung berpotensi merusak infrastruktur jalan. Aliran air deras dapat mengikis aspal, menyebabkan jalan berlubang, amblas, bahkan terputus akibat abrasi.

Selain itu, air luapan sungai yang bercampur lumpur dan limbah berisiko menimbulkan penyakit kulit, diare, dan leptospirosis bagi warga yang terpapar. Akses transportasi yang lumpuh juga menghambat distribusi kebutuhan pokok dan aktivitas ekonomi warga.

Hingga berita ini diturunkan, redaksi belum mendapatkan keterangan resmi dari pihak-pihak terkait. Upaya konfirmasi telah dilakukan melalui telepon dan pesan singkat sejak rabu malam.

Warga diimbau untuk tetap waspada, tidak memaksa melintas saat genangan tinggi, dan segera melaporkan kondisi darurat ke BPBD Tapanuli Selatan. (Sabar Sitompul-HT)