TAPANULI SELATAN, hariantabagsel.com– Tim gabungan akhirnya menemukan Sariman Gulo (22), korban terakhir longsor di Lingkungan II, Kelurahan Wek I, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Rabu pagi (20/5/2026). Korban ditemukan meninggal dunia setelah dua hari pencarian di tengah medan berat dan hujan deras yang terus mengguyur lokasi.
Dengan ditemukannya Sariman, total korban meninggal dalam peristiwa ini menjadi dua orang. Jenazah korban telah dievakuasi ke Puskesmas Batang Toru untuk proses identifikasi dan selanjutnya diserahkan kepada keluarga.
Kapolsek Batangtoru AKP Penggar M. Siboro yang memimpin langsung pengamanan di lokasi menjelaskan, proses pencarian menghadapi kendala besar sejak hari pertama.
“Medan di lokasi sangat curam dan licin. Hujan terus turun sehingga tanah labil dan berisiko terjadi longsor susulan. Kami harus mengutamakan keselamatan personel di lapangan,” kata AKP Penggar.
Menurutnya, pengamanan jalur evakuasi dan pengaturan lalu lintas warga menjadi prioritas agar proses evakuasi berjalan lancar tanpa menambah korban. Pihak kepolisian juga melakukan koordinasi dengan TNI, BPBD, dan Basarnas untuk membagi tugas di lapangan.
“Kami imbau warga tidak mendekat ke lokasi longsor selama proses pembersihan belum selesai. Tanah masih labil dan bisa bergerak kapan saja,” tegasnya.
Kepala Pelaksana BPBD Tapanuli Selatan Zulkarnaen Siregar mengatakan, pihaknya mengerahkan seluruh personel dan peralatan yang tersedia sejak longsor terjadi Senin sore (18/5/2026).
“Kami gunakan kombinasi alat berat dan manual. Alat berat untuk menyingkirkan material besar, sementara tim manual menyisir titik-titik yang dicurigai tertimbun korban,” jelas Zulkarnaen.
Ia menyebut curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir menjadi faktor utama pemicu longsor. Tanah di kawasan perbukitan Lingkungan II memang masuk kategori rawan bencana.
“Setelah ini kami akan lakukan assessment lanjutan bersama Dinas PU dan BPBD Provinsi. Tujuannya untuk memetakan titik rawan dan menyusun langkah mitigasi agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Zulkarnaen juga mengapresiasi peran warga yang ikut membantu proses evakuasi.
“Gotong royong masyarakat sangat membantu mempercepat pencarian. Ini jadi bukti sinergi pemerintah dan warga dalam menghadapi bencana,” katanya.
Dari dua korban meninggal, satu jenazah ditemukan pada Selasa (19/5/2026) dan satu lagi ditemukan Rabu pagi. Pemerintah Kabupaten Tapsel melalui Dinas Sosial telah menyalurkan bantuan logistik awal berupa makanan siap saji, air mineral, selimut, dan perlengkapan kebersihan untuk keluarga terdampak.
Camat Batang Toru bersama pemerintah desa saat ini masih melakukan pendataan kerusakan rumah dan infrastruktur. Akses jalan menuju Lingkungan II masih tertutup material longsor dan hanya bisa dilalui pejalan kaki.
BPBD Tapsel mengimbau warga yang tinggal di lereng bukit, bantaran sungai, dan area rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan. Terutama saat hujan turun lebih dari satu jam tanpa henti.
“Kalau melihat tanda-tanda tanah retak, pohon miring, atau sumber air keruh secara tiba-tiba, segera evakuasi mandiri ke tempat aman dan laporkan ke aparat desa,” imbau Zulkarnaen.
Peristiwa ini menambah daftar bencana hidrometeorologi di Tapanuli Selatan sepanjang Mei 2026. Pemerintah daerah menyatakan akan mempercepat normalisasi drainase dan penguatan tebing di titik rawan. (Sabar Sitompul-HT)
