PADANGSIDIMPUAN, hariantabagsel.com– Menyusul pemberitaan keresahan publik Kota Padangsidimpuan terkait foto pertemuan Wali Kota Padangsidimpuan Letnan Dalimunthe dengan tersangka Korupsi MBG Sony Sanjaya, sejumlah pertanyaan yang muncul tak mendapatkan jawaban langsung dari Letnan Dalimunthe.

Anehnya, Letnan seolah-olah menjadikan organisasi Karang Taruna sebagai “Juru Bicara” untuk melakukan bantahan di sejumlah media.

Atas hal ini kembali menyulut pertanyaan publik. Kenapa Letnan tidak berani memberikan statement resmi secara langsung?.

“Yang di tanya siapa yang jawab siapa. SDM kami warga Padangsdimpuan ini tidak serendah itu menilai pemberitaan. Kalau memang gak ada apa-apa ya tinggal jawab saja. Kenapa pake mulut orang lain,” ujar warga RE Nasution sinis.

Menurutnya ada kesan kepanikan di diri Letnan Dalimunthe atau juga menandakan sifat kepengecutannya yang tidak berani menjawab pertanyaan dari keingintahuan masyarakatnya sendiri.

“Kan ada azas praduga tak bersalah. Sesimpel itu sebenarnya jika memang tidak apa-apa. Ini jadinya kan kita malah overthinking lagi. Bayangkan foto di pertemuan itu baru atau 3 bulan sebelum Sony ditetapkan sebagai tersangka. Wajar publik curiga. Apalagi kasus ini sudah buat geram publik Indonesia. Harusnya Letnan berani bicara langsung kalau merasa tidak ada persoalan. Malah kita warganya yang khawatir apakah pemimpinnya ada kenapa-napa,” cetusnya.

Sementara Pengamat Publik, UF Hasibuan berharap Kejagung nantinya dalam prosesnya pengusutan kasus ini tidak hanya berhenti ditingkat atas saja tapi hingga ke bagian bawah termasuk daerah-daerah yang diduga kuat juga ikut terlibat terkhusus dalam penentuan atau jual beli titik SPPG.

“Termasuk kita juga meminta Kejagung memanggil nantinya Wali Kota Padangsidimpuan Letnan Dalimunthe untuk memperjelas tudingan yang simpang siur terkait pertemuan nya dengan Sony Sanjaya. Jadi siapa saja yang ada kontak langsung dengan ketiga tersangka harus diperiksai juga,” pintanya.

Sementara itu dikutip dari sejumlah media online nasional salah satu tersangka Sony Sanjaya untuk menebus kesalahannya, siap ‘bernyanyi’ demi membongkar jejaring hitam para pemangsa hak nutrisi anak-anak sekolah.

Sony tidak main-main. Melalui kuasa hukumnya, Elza Syarief, ia resmi mengajukan diri sebagai Justice Collaborator (JC). Di dalam genggamannya, tersimpan sebuah “buku dosa” berupa catatan digital terperinci yang memuat sedikitnya 26 nama tokoh besar.

Mulai dari kalangan elite eksekutif, anggota legislatif, hingga pimpinan organisasi raksasa diduga ikut mengintervensi program nasional ini demi memperebutkan jatah proyek Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.

Langkah berani Sony ini langsung memantik reaksi keras dari Ketua Komisi Kejaksaan, Pujiyono Suwadi. Ia meminta tim penyidik Kejaksaan Agung membuka telinga lebar-lebar dan tidak mengabaikan nyanyian dari sang mantan pejabat yang kini tengah terpojok tersebut.

Bagi Pujiyono, kesaksian ini bisa menjadi kunci emas untuk membuka kotak pandora korupsi yang selama ini tersembunyi.

“Jaksa tidak boleh denial (menolak) juga ya terhadap apa yang kemudian diberikan kesaksian oleh Pak SS (Sony Sonjaya) ini,” tegas Pujiyono dengan nada bicara yang dalam, dikutip dari tayangan YouTube Kompas TV, Senin (8/6/2026).

Publik di Indonesia termasuk Kota Padangsidimpuan memang terlanjur geram. Program mulia yang digadang-gadang mengentaskan gizi buruk anak Indonesia justru dijadikan ajang bancakan dan rebutan kavling bisnis oleh para pemburu rente.

Pujiyono mengabaikan analogi klasik yang menyebut bahwa kebobrokan suatu lembaga hanya terjadi di tingkat atas. Dalam kasus BGN, ia menilai pembusukan sudah menjalar ke seluruh struktur organisasi secara masif.

“Karena kan yang dirasakan kasus ini tidak berhenti di beliau bertiga kan, tetapi nanti harus kemudian dibuka termasuk kemudian sampai hilir,” papar Pujiyono getir.

“Yang namanya ikan busuk itu memang benar dimulai dari kepala, tapi kan publik sudah menganggap busuknya ini tidak hanya di kepalanya saja gitu, tapi sampai kemudian tubuh, bahkan kemudian diduga sampai ekornya,” sambungnya tajam.

Jika nyanyian Sony terbukti valid dan menyeret figur-figur dengan posisi yang lebih tinggi, ia berpotensi besar naik kelas menjadi saksi mahkota. Namun jika kesaksiannya mengarah ke kluster bawah, hal itu tetap teramat berharga bagi jaksa untuk menyisir dan membersihkan borok korupsi ini sampai ke akarnya.

Masyarakat kini menunggu dengan dada sesak, sejauh mana keberanian korps adhyaksa menyeret 26 nama elite yang tega merampas piring makan gratis milik anak-anak bangsa.

Kuasa hukum tersangka Sony Sonjaya, Krisna Murti, sebelumnya juga mengatakan Sony memiliki bukti-bukti chat dengan sejumlah tokoh yang terlibat dalam korupsi MBG tersebut.

“Ada semuanya, bukti-bukti terkait chat-chatnya. Saya dengan beliau, saya dengan ini, dengan ini, dengan ini, satu per satu. Mereka minta yayasannya segera diverifikasi, mereka minta titiknya segera diverifikasi,” ucap Krisna menirukan Sony, Jumat (5/6/2026), dikutip dari YouTube Kompas TV.

“Disebutkanlah nama-namanya. Ada sekitar berapa puluh nama lah yang disebutkan, itulah dia bilang, dia hanya menjalankan sifatnya adalah atensi,” tambah Krisna.

Saat Krisna bertanya siapa yang memberikan atensi, Sony mengatakan banyak tokoh hingga pejabat-pejabat yang melakukannya.

“Ada eksekutif, ada legislatif gitulah, ada beberapa organisasi-organisasi,” ungkapnya.

Ketiga tersangka juga terafiliasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG.

Sejatinya program MBG itu dikelola oleh yayasan yang terafiliasi dengan sekolah penerima

Namun, pada pelaksanaannya ternyata ditemukan banyak SPPG yang ditunjuk karena mempunyai afiliasi dengan petinggi BGN padahal tidak memiliki syarat untuk menjadi mitra SPPG.

Tetap ditunjuk dengan cara dilakukan pengaturan verifikasi pada portal mitra BGN dengan adanya atensi dari para tersangkam

Sebagai imbalannya, yayasan yang terafiliasi dengan para pelaku itu, menerima uang insentif hingga miliaran rupiah setiap harinya. (Rel/Int/HT)