PADANG LAWAS, hariantabagsel.com– Senin pagi itu, 8 Juni 2026, halaman RA Al Hidayah Tamiang tak lagi sepi. Biasanya hanya terdengar suara ‘alif ba ta’, riang tawa anak-anak dari ruang-ruang kelas.
Hari ini, 31 suara kecil bersahut-sahutan melantunkan surah-surah yang mereka hafal. Bukan sekadar wisuda, tapi ini seremonial pelepasan siswa-siswi. Melepas 31 anak didik yang baru saja lulus, sekaligus melepas 31 harapan baru untuk Kabupaten Padang Lawas.
Ketua Yayasan Al Hidayah, Ahmad Muttaqin Nasution MPd, menatap satu per satu wajah muridnya. Matanya berkaca.
“Hari ini kita melepas 31 putra-putri terbaik RA Al Hidayah. Kami tidak melepas mereka sebagai anak TK biasa. Kami melepas 31 Mutiara Qur’an,” kata Ahmad Muttaqin Nasution, Senin (8/6/2026) kemarin.
“Mutiara. Kata ini sengaja saya pilih. Karena anak-anak ini memang sudah ditempa. Sejak usia 4-6 tahun, mereka menghafal. Sedikitnya 20 surah, dari An-Nas sampai Ad-Dhuha. Surah-surah pendek yang jadi bekal hidup. Surah yang akan mereka baca saat dewasa, saat susah, bahkan saat sujud tengah malam,” sambungnya.
Ahmad Muttaqin meyakini bahwa anak-anak RA Al Hidayah ini akan jadi generasi yang setia menebar Qur’an. Dari ujung tenggara Sumatera Utara, berbatasan langsung dengan Riau dan Sumatera Barat, tantangan mendidik anak-anak bangsa memang tidak mudah. Akan tetapi, hingga saat ini, RA Al Hidayah berdiri di ‘pelosok desa’, namun api cita-cita tidak pernah pelosok untuk mencerdaskan anak bangsa.
“Walau kami di ujung desa, harapan kami tetap ‘pusat kota’. Pusatnya di hati anak-anak bangsa yang Qur’ani. Dua Puluh Empat kali sudah RA Al Hidayah meluluskan generasi. Alumni yang dulu duduk di bangku kayu ini, kini sudah banyak yang melanjutkan ke MI/MTs terbaik di Padang Lawas,” terang Muttaqin dengan suara bergetar.
Muttaqin turut mengucapkan terima kasih kepada Kemenag Palas, Kemenag RI atas segala dukungan selama ini. Walau berat, keyakinan ada, dari RA Al Hidayah ini semangat akan terus bergelora membangun generasi bangsa.
”Semangat itu nyata. Terlihat dari mata 31 anak yang hari ini melepas seragam RA, tapi tidak akan pernah melepas Qur’an dari dadanya. Kami dari pelosok, cahaya tetap bisa menjangkau seluruh negeri,” tandasnya.
/RA Al Hidayah Bukti Anak Desa Bisa Jadi Cahaya Qur’an/
Kepala RA Al Hidayah, Masroh Mardiah Lubis, menahan air mata saat menyebut nama satu per satu wisudawan. 31 anak anak didiknya yang dulu malu mengaji, kini paling lantang. Ada yang dulu belum bisa pegang pensil, kini sudah menulis nama sendiri dengan ayat pertama yang dihafal.
“Mereka lahir dan besar di Tamiang, desa yang peta pun kadang lupa menandai. Tapi hari ini, dari desa Tamiang inilah lahir mutiara-mutiara Qur’an. “Terima kasih kepada semua pihak yang sudah jadi bagian perjalanan ini,” ujar Masroh Mardiah Lubis.
Kakan Kemenag Padang Lawas, Kasman, yang juga hadir, mengapresiasi para guru dan orang tua. Peserta didik tentu dimulainya dari tingkat PAUD.
“PAUD itu fondasinya. Fondasi akhlak, cerdas, dan berkarakter. Pelepasan hari ini bukan akhir. Ini langkah pertama mereka menuju jenjang pendidikan selanjutnya,” sebut Kasman.
Kasman lalu menoleh ke para orang tua yang duduk di barisan paling depan. Tangan mereka masih kasar karena kerja di kebun, di ladang.
“Bapak, Ibu… terus dampingi anak-anak. Tanamkan nilai Islam, disiplin, dan semangat belajar. Madrasah, keluarga, masyarakat harus satu napas. Karena keberhasilan anak, lahir dari sinergi kita semua,” tegas Kasman.
Hadir di barisan undangan, Pengawas Madrasah Seri Hafni Nasution, Humas Kemenag Palas, Ketua PC GP Ansor H Nazri Alwi Harahap, dan pengurus PAC Ansor Batang Lubu Sutam juga ikut berdiri memberi selamat kepada anak-anak hingga tepuk tangan menggema. (Red/Parningotan Aritonang-HT)
