PADANG LAWAS, hariantabagsel.com– Penderita penyakit Human Immunodeficiency Virus, Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV AIDS) di Kabupaten Padang Lawas mencapai 25 penderita. Data ini dihimpun berdasarkan data Sistem Informasi HIV AIDS (aplikasi SIHA) Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Lawas.

Kepala Dinas Kesehatan, Amelia Roitona MKM melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr M Ilham Syuhri Siregar, Kamis (11/6) membeberkan ke 25 orang tersebut merupakan penderita positif HIV (+) yang melakukan pengobatan di rumah sakit di Kabupaten Padang Lawas. Kisaran umur penderita antara 20-50 tahun.

“Data ini yang melakukan pengobatan di Rumah Sakit yang ada di Padang Lawas,” terang dr Ilham.

Jumlah ini tidak bisa disebutkan meningkat atau tinggi. Hanya saja, jumlah ini terdeteksi yang melakukan pengobatan. Diluar pasien yang berobat diluar Padang Lawas.

“Karena ini kan penyakit yang tabu, yang harus melakukan pengobatan seumur hidup. Tidak bisa dibilang tinggi, karena pasien terdata setelah mengidap penyakit berat dan berobat ke RS. Selama tidak ada keluhan si pasien, tidak mau periksa walaupun beresiko tinggi. Yang jelas ini warga Padang Lawas, beda lagi mereka yang berobat diluar Padang Lawas, tidak terdata,” kata dr Ilham yang diamini Kadis.

Diakui dr Ilham, berbagai upaya edukasi terhadap masyarakat kerap dilaksanakan, dengan sasaran tertentu. Sedang sasaran pelaku yang beresiko tinggi seperti pekerja Seks Komersial (PSK) atau LGBT, masih sulit dijangkau, dan kurang kooperatif.

“Selama ini kita sudah melakukan promosi kesehatan dan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan dan pengendalian penyakit menular termasuk HIV AIDS, tapi hanya sasaran seperti ibu hamil, penderita TBC dan skrining kesehatan untuk calon pengantin. Untuk sasaran seperti pelaku beresiko tinggi (PSK dan pelaku LGBT) sangat sulit dijangkau dan kurang kooperatif untuk di edukasi dan di skrining,” sebut Kabid P2P ini.

Faktor sulitnya menjangkau pelaku beresiko tinggi tersebut diyakini dikarenakan tingginya stigma masyarakat akan penyakit menular tersebut. Sehingga enggan berobat.

“Mungkin penyebabnya masih tingginya stigma di masyarakat terkait penyakit HIV AIDS ini, makanya para penderita enggan berobat dan kemungkinan banyak yang berobat di luar Kabupaten Padang Lawas,” tandasnya. (Parningotan Aritonang-HT)