NIAS — Bayangkan belajar di ruang kelas dengan dinding papan lapuk, atap seng bocor, lantai becek setiap kali hujan deras mengguyur. Itulah kenyataan pahit yang selama bertahun-tahun harus ditelan oleh 146 siswa SMKN 1 Gido di Kabupaten Nias.
Namun, di balik keprihatinan itu, secercah harapan kini menyala. Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, bergerak cepat. Di hari pertama berkantor di Kepulauan Nias, Rabu (15/7/2026), Bobby langsung meninjau dan memulai pembangunan relokasi SMKN 1 Gido ke lokasi baru yang layak.
Kisah SMKN 1 Gido adalah potret memprihatinkan pendidikan di daerah terpencil. Berdiri di Desa Somi, Kecamatan Gido, sekolah kejuruan dengan jurusan Agribisnis Perikanan Air Tawar ini awalnya hanya berupa bangunan swadaya masyarakat yang diresmikan menjadi SMK Negeri pada 2023.
Bangunan sekolah itu hanya satu baris memanjang dengan tiga ruang kelas, satu ruang guru, dan satu ruang kepala sekolah semuanya dari papan dan atap seng tanpa plafon. Letaknya pun tragis: berada di lahan pertanian basah yang mudah tergenang, tak jauh dari muara sungai.
“Kalau hujan itu banjir, lantainya tergenang air, atapnya bocor, jadi kami enggak jadi belajar. Ikan yang di kolam laboratorium juga hilang dibawa banjir, jadi kami harus mengulang lagi pembibitan ikan,” tutur Fani Putri Zelita Gulo, siswi SMKN 1 Gido.
Bahkan, bahaya mengintai lebih dari sekadar air. “Ada laporan pernah lihat buaya,” ungkap Bobby Nasution. Bayangkan, para siswa harus belajar dengan ancaman reptil buas yang bisa muncul kapan saja dari muara.
Siswi lain, Mervinda Gulo, menggambarkan kondisi belajar yang absurd: “Kalau panas gini sangat panas kali, jadi belajarnya nggak enak gitu,” ujarnya. Ruangan bolong membuat meja dan lantai basah saat hujan, sementara terik matahari menyengat tanpa penghalang.
Kepala SMKN 1 Gido, Julius Lahagu, hanya bisa pasrah. Dari 22 guru di sekolahnya, hanya satu yang berstatus PNS sisanya masih honorer. “Selama ini kami berada di tempat yang tidak layak,” keluhnya.
Ketika Bobby Nasution pertama kali meninjau SMKN 1 Gido pada Maret 2025, dia tak sekadar melihat dia bertindak.
“Melihat SMK Negeri 1 Gido yang secara antusias muridnya sangat baik dan tiap tahun penambahan siswanya juga sangat luar biasa, namun fasilitasnya masih sangat memprihatinkan,” kata Bobby kala itu.
Alih-alih merenovasi bangunan tua yang sudah tak layak, Bobby memutuskan langkah lebih berani: relokasi total. “Statusnya juga lahan pertanian basah, hujan dikit langsung tergenang dan dekatnya ada muara. Ada laporan pernah lihat buaya, jadi bahaya, sehingga kita pindahkan,” tegasnya.
