PADANG LAWAS UTARA, hariantabagsel.com– Rencana operasional Asphalt Mixing Plant (AMP) PT Sumatera Pioneer Building Material di Desa Siunggam Tonga, Kecamatan Padang Bolak Tenggara, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), memasuki tahapan penting.
Tak hanya berbicara soal kesiapan produksi, perusahaan bersama pemerintah dan masyarakat mulai membahas konsekuensi sosial, ekonomi, budaya hingga pengelolaan lingkungan yang menyertai keberadaan fasilitas AMP tersebut.
Pembahasan itu mengemuka dalam sosialisasi aspek sosial, ekonomi dan budaya penyusunan UKL-UPL serta rencana operasional AMP, yang digelar di Pabrik AMP PT Sumatera Pioneer Building Material, Senin (14/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Paluta yang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Paluta Lairar Rusdi Nasution, Waka Polres Paluta Kompol Dahrun Harahap, pimpinan OPD, Camat Padang Bolak Tenggara, tokoh masyarakat, tokoh pemuda serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Kepala Manajer Produksi PT Sumatera Pioneer Building Material, Ihromi Muzam Nst dalam sambutannya menekankan pentingnya sosialisasi sebagai bagian dari proses persiapan operasional perusahaan.
Ia menjelaskan bahwa keberadaan AMP tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas produksi, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan kondisi masyarakat dan lingkungan di sekitar kawasan. Karena itu, aspek pengelolaan dan pemantauan lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rencana kegiatan perusahaan.
Ihromi juga membuka ruang komunikasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan. Masukan yang muncul dalam forum tersebut menjadi bagian penting untuk melihat berbagai aspek yang perlu diperhatikan sebelum kegiatan operasional berjalan secara penuh.
“Intinya, kami ingin kegiatan ini berjalan dengan baik, tertib dan memberikan manfaat, dengan tetap memperhatikan masyarakat serta lingkungan sekitar,” demikian substansi yang disampaikan dalam forum tersebut.
Sementara itu, Asisten I Setdakab Paluta Lairar Rusdi Nasution saat menyampaikan pesan Bupati Paluta, menegaskan bahwa pemerintah daerah pada prinsipnya mendukung hadirnya investasi yang dapat memberikan nilai tambah bagi daerah. Namun, dukungan terhadap investasi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Menurutnya, perusahaan tidak cukup hanya memastikan kegiatan produksi berjalan. Keberadaan investasi juga diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat, membuka peluang kerja dan mendorong perputaran ekonomi di wilayah sekitar.
Di sisi lain, pemerintah menekankan agar setiap potensi dampak terhadap lingkungan maupun masyarakat dikelola sesuai ketentuan yang berlaku.
“Pembangunan dan investasi harus memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi aspek lingkungan dan kepentingan sosial juga harus menjadi perhatian,” pesan Lairar.
Lairar juga menekankan pentingnya komunikasi antara perusahaan, pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, keterbukaan sejak awal akan membantu mencegah munculnya persoalan di kemudian hari.
UKL-UPL Jadi Instrumen Pengendalian
Sosialisasi tersebut membahas tiga agenda utama, yakni pemaparan rencana operasional dan pengendalian lingkungan, sosialisasi dokumen kajian sosial, ekonomi dan budaya, serta diskusi dan tanya jawab bersama masyarakat dan pemangku kepentingan.
Secara fisik, lokasi AMP berada di kawasan yang telah mengalami proses pematangan lahan melalui metode cut-and-fill. Di lokasi tersebut telah berdiri fasilitas AMP bermerek ULTIMA, lengkap dengan sejumlah komponen pendukung seperti tangki penampung, silo, unit pemanas, sistem filtrasi/cerobong dan struktur conveyor.
Melalui penyusunan UKL-UPL, rencana kegiatan tersebut diarahkan agar memiliki langkah pengelolaan dan pemantauan terhadap potensi dampak lingkungan yang terukur.
Pada akhirnya, keberadaan AMP di Siunggam Tonga diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas industri, tetapi juga mampu memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi daerah tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. (Asmar Siregar-HT)
