PADANGSIDIMPUAN, HARIAN TABAGSEL.com- Banjir di Kota Padangsidimpuan, Provinsi Sumatera Utara menyebabkan korban jiwa. 1 orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia atas nama Feri Siregar, usia 21 tahun, warga Desa Tabusira, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Korban dilaporkan hanyut terbawa arus air luapan banjir di daerah Jalinsum Simpang Batu Bola, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, Kota padangsidimpuan, Kamis (14/3/2025) malam.
Informasinya korban diiduga terpeleset dan terjatuh ke arus air yang deras saat menolong salah seorang warga saat terjadi banjir.
Mengetahui kejadian tersebut wargapun melakukan pencarian dan menemukan di sekitaran aliran Sungai Batang Angkola, Jumat (14/2025) kemarin.
Setelah di lakukan identifikasi sesuai dengan petunjuk keluarga nya, korban diketahui bernama Feri Siregar (21), warga Tabusira, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Kepala Desa Pudun Jae, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, Riski Ibrahim Siregar, kepada wartawan mengatakan, saat kejadian, korban sudah tersangkut di batang pohon aliran Sungai Batang Angkola.
“Keluarga sudah dilokasi, untuk diindentifikasi, kami atas nama pemerintah desa bersama warga sedang menyusuri sungai melihat apakah ada lagi yang menjadi korban,” jelasnya.

Sementara 2 korban yang terseret air Sungai Batang Ayumi masing-masing Ali Rasmin Hasibuan (47) dan Bangun Hutabarat (70), warga Lingkungan II, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Kota Padangsidimpuan masih dalam pencarian.
Saat ini Basarnas bersama tim Federasi Arung Jeram Indonesia (Faji) Tapanuli Selatan menelusuri aliran Sungai Batang Angkola, dimulai dari titik lokasi korban dinyatakan hilang di Lingkungan IV, Kelurahan Sihitang, hingga ke Bendungan Paya Sordang di Huta Lombang, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Kota Padangsidimpuan, Minggu (16/3/2025) siang.
Hari ini pencarian diperluas hingga ke arah Sayur Matinggi (Aek Sijorni) di Sungai Batang Angkola.
“Semoga kedua korban bisa segera ditemukan,” ujar M Rizal Rangkuti, Komandan Pos Basarnas kepada wartawan saat ditemui di bendungan Paya Sordang.
Sebelumnya Basarnas menerima laporan dari tim BPBD kota Padangsidimpuan, bahwa ada dua korban hilang baru diterima pada hari kedua setelah banjir.
Hal ini disebabkan oleh belum adanya kepastian dari pihak keluarga mengenai keberadaan korban, yang ternyata menginap di sebuah gubuk penjaga kolam (eks water boom) di Lingkungan IV, Sihitang.
“Hari kedua ini, pencarian terus di lakukan dengan melibatkan tim dari Faji Tapanuli Selatan,” kata Rijal.
“Kami memastikan bahwa mereka menginap di gubuk kolam setelah ada saksi yang melihat mereka membeli rokok sekitar pukul 20.00 WIB, sebelum kembali ke gubuk tersebut. Selain itu, satu unit sepeda motor yang mereka gunakan ditemukan tertimbun lumpur di dekat lokasi,” ujar Lambok, salah satu keluarga korban.
Lambok juga mengakui bahwa laporan ke pihak berwenang terlambat satu hari karena awalnya keluarga belum memiliki kesimpulan pasti terkait keberadaan korban.
Namun, setelah dipastikan mereka menginap di gubuk tersebut saat banjir terjadi, laporan pun segera dibuat ke Pemerintah Kota Padangsidimpuan dan Basarnas Tabagsel.
“Kami berharap pencarian juga dilakukan di sekitar gubuk itu karena ada tumpukan pasir dan tanah bahkan Sampah . Bisa jadi korban tertimbun di area tersebut,” tambahnya.
Siti Aisyah Aritonang, istri Ali Rasmin Hasibuan, hanya bisa pasrah menunggu kabar suaminya yang dinyatakan hilang. Ia berharap Basarnas segera menemukan suaminya dan rekannya, apa pun kondisinya.
“Semoga mereka bisa ditemukan. Saya ikhlas, meskipun suami saya sudah meninggal,” ujarnya dengan suara bergetar.
Hingga berita ini diturunkan, tim Basarnas dan Faji tapsel masih terus menyusuri sungai dan mempertimbangkan untuk menggali tumpukan pasir serta tanah di sekitar lokasi kejadian
Penanganan Banjir dan Longsor di Kota Padangsidimpuan Lamban
Terpisah, Imam warga kota Padangsidimpuan kepada awak media mengatakan, banjir telah menerjang pemukiman warga semalam, namun pemerintah bersama Forkopimda daerah belum juga mengambil tindakan yang efektif untuk mengatasi masalah tersebut.
“Sampai saat ini pemerintah daerah belum juga memberikan bantuan yang memadai, untuk mengatasi darurat bencana. Hal itu terlihat di beberapa lokasi banjir belum ada yang mendapatkan bantuan sama sekali, yang ada data sana data sini,” ujarnya.
Pemerintah daerah dinilai terlalu lamban seolah-olah tidak paham sama sekali dalam menangani bencana banjir dan longsor padahal sebelumnya Pemko Padangsidimpuan sudah melakukan rapat lintas sektoral di hadiri oleh TNI-Polri dan Pemko Padangsidimpuan.
“Harusnya Pemerintah Daerah harus sigap dalam menanggapi bencana yang terjadi. Pemda juga harus segera mengambil tindakan yang konkrit dalam menanggulangi bencana banjir yang terjadi di Kota Padangsidimpuan,” pungkasnya.
Sementara itu, warga terus berjuang untuk mengatasi dampak banjir. Mereka berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil tindakan yang cepat.
Menurut nya proses penanggulangan bencana berlangsung lamban, baik dalam hal evakuasi maupun pendistribusian bantuan logistik bagi para korban.
Sedangkan respons masyarakat serta para relawan bencana telah bergerak maju contohnya anggota Pramuka dan pelajar se-Kota Padangsidimpuan bersama PMI sudah melakukan tindakan cepat untuk menolong warga.
“Masa dari pemerintahan tidak ada berbuat. Untuk itu, kami mengimbau agar segera dibentuk Satgas Reaksi cepat penanggulangan bencana alam sebagai lembaga yang bertanggung jawab secara langsung dalam pengoordinasian, perencanaan dan strategi penanggulangan bencana, selain dari BPBD,” uucapnya.
Lebih jauh ia menyatakan, perlunya dibangun sistem koordinasi cepat dan kerja sama antar daerah guna menanggulangi potensi bencana di Kota Padangsidimpuan. (Sabar Sitompul)

