MANDAILING NATAL, hariantabagsel.com– Kepedulian terhadap keberlanjutan perkebunan kopi masyarakat, mendorong dosen Universitas Graha Nusantara (UGN) dan mahasiswa melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), di Desa Pagar Gunung, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal.

Kegiatan ini menyasar Kelompok Tani Karya Muda tersebut dimulai melalui observasi lapangan pada 12 Mei 2026 dan dilanjutkan dengan rangkaian sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, serta pendampingan.

Puncak pelaksanaan kegiatan digelar pada 6 Juli 2026 di Desa Pagar Gunung. Tim PKM UGN diketuai oleh Dr. Dini Puspita Yanty, dengan anggota M. Nizar Hanfiah dan Dwi Aninditya.

Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari pelaksanaan dan pendampingan program di lapangan. Program PKM ini mengusung penerapan teknologi produksi biofungisida Trichoderma sebagai alternatif pengendalian penyakit tanaman kopi.

Dalam proposal, Kelompok Tani Karya Muda disebut sebagai kelompok tani mitra yang beranggotakan sekitar 15–20 petani aktif dengan luas kebun kopi yang dikelola mencapai sekitar 12–15 hektare.

Berawal dari Kondisi Kebun Kopi Petani

Rangkaian kegiatan diawali dengan observasi pada 12 Mei 2026. Tim turun langsung ke kawasan perkebunan kopi untuk melihat kondisi tanaman sekaligus berdiskusi dengan petani mengenai persoalan yang mereka hadapi.

Observasi tersebut menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi tingkat serangan penyakit, pola penggunaan fungisida kimia, serta kesiapan sarana produksi yang dimiliki kelompok tani.

Hal ini sesuai dengan metode PKM yang dirancang dalam proposal, yaitu diawali dengan analisis kondisi awal dan kesepakatan program bersama mitra.

Salah satu persoalan utama yang ditemukan adalah penyakit karat daun kopi yang disebabkan oleh Hemileia vastatrix. Penyakit tersebut menjadi salah satu penyakit penting pada tanaman kopi dan apabila tidak dikendalikan secara tepat dapat menyebabkan kehilangan hasil yang cukup besar.

Di sisi lain, petani masih menghadapi keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam memproduksi serta mengaplikasikan Biofungisida secara mandiri. Kondisi tersebut turut menyebabkan ketergantungan terhadap fungisida kimia sintetis masih cukup tinggi.

Kenalkan Teknologi Trichoderma

Melihat kondisi tersebut, tim PKM UGN memperkenalkan teknologi biofungisida berbasis Trichoderma kepada kelompok tani.

Teknologi tersebut diarahkan sebagai salah satu alternatif pengendalian penyakit tanaman kopi yang lebih ramah lingkungan.

Petani diberikan pemahaman mengenai penyakit karat daun, prinsip pengendalian hayati, serta cara memproduksi dan mengaplikasikan Trichoderma.

Tidak berhenti pada penyampaian materi, tim juga memberikan pelatihan dan pendampingan produksi biofungisida dalam skala kelompok tani. Tahapan tersebut mencakup proses perbanyakan, formulasi, hingga penyediaan sarana produksi sederhana.

Salah satu inovasi yang ditawarkan dalam proposal adalah pemanfaatan limbah tebu sebagai bahan media produksi Trichoderma. Pemanfaatan bahan lokal tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan agen pengendali hayati, tetapi juga mendukung upaya mengurangi limbah dan menciptakan input pertanian yang dapat diproduksi secara mandiri oleh kelompok tani.

Petani Diajak Praktik Langsung

Pada tahap pelaksanaan, petani tidak hanya mendapatkan teori. Warga diajak untuk melakukan praktik secara langsung dalam proses produksi biofungisida.

Tim memberikan pendampingan mengenai teknik produksi, formulasi, hingga cara aplikasi Trichoderma pada tanaman. Petani juga mendapatkan pemahaman mengenai standar waktu, dosis, dan teknik aplikasi yang tepat.

Selanjutnya, teknologi tersebut diterapkan melalui demonstration plot (demplot) di kebun kopi mitra.

Demplot menjadi sarana pembelajaran langsung bagi petani untuk melihat penerapan teknologi pengendalian penyakit karat daun kopi berbasis agen hayati. Pada kegiatan tersebut, tim bersama Kelompok Tani Karya Muda mempraktikkan penerapan teknologi biofungisida Trichoderma.

Para petani mendapatkan pendampingan agar mampu memahami proses produksi sekaligus teknik aplikasinya pada tanaman kopi. Kegiatan juga diarahkan pada penyusunan dan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi dan aplikasi Trichoderma. SOP tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi kelompok tani sehingga teknologi yang diperkenalkan dapat terus diterapkan setelah program PKM berakhir.

Bukan sekadar Pelatihan tim PKM UGN menargetkan kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai pelatihan satu kali. Kelompok tani diarahkan agar mampu menjadi lebih mandiri dalam menyediakan sarana pengendalian penyakit tanaman kopi.

Proposal kegiatan menempatkan pelatihan produksi biofungisida, penyusunan SOP, dan penerapan demplot sebagai bagian dari strategi pemberdayaan kelompok tani. Dengan pendekatan tersebut, petani diharapkan dapat memproduksi sekaligus menggunakan biofungisida secara tepat dan efisien.

Pada tahap berikutnya, penggunaan biofungisida diharapkan dapat dilakukan secara bertahap sebagai substitusi terhadap penggunaan fungisida kimia. Tim juga melakukan monitoring dan evaluasi untuk melihat perkembangan kondisi penyakit tanaman serta tingkat kemandirian petani dalam pengendaliannya.

Dorong Pertanian Kopi Ramah Lingkungan

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong pertanian yang lebih berkelanjutan. Pemanfaatan Trichoderma diarahkan untuk mengurangi penggunaan fungisida kimia sintetis, menekan residu kimia, serta menjaga kualitas lingkungan perkebunan.

Selain itu, pemanfaatan bahan lokal dalam produksi biofungisida memberikan peluang bagi kelompok tani untuk memiliki kapasitas produksi input pertanian sendiri.

Dengan demikian, kegiatan PKM yang dimulai dari observasi pada 12 Mei 2026 hingga puncak pelaksanaan pada 6 Juli 2026 diharapkan menjadi langkah konkret dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani kopi Desa Pagar Gunung.

Lebih jauh, program ini diharapkan mampu membangun kemandirian Kelompok Tani Karya Muda dalam mengendalikan penyakit tanaman kopi sekaligus mendorong perubahan menuju budidaya kopi yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan. (Rel-HT)